Angka tersebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2015.
Berdasarkan data BKPM, Jepang memberikan kontribusi investasi paling tinggi di Indonesia melalui industri otomotif dengan nilai USD1,18 miliar pada 2015, disusul kawasan industri dan properti USD520 juta, kemudian industri logam, elektronik, dan mesin senilai USD426 juta, serta listrik, gas, dan air sebesar USD134 juta.
Kerja sama vokasi Indonesia dan Jepang juga berupaya meningkatkan kerja sama di bidang pendidikan vokasi atau kejuruan, sesuai arahan Presiden Joko Widodo yang menekankan bahwa untuk membangun industri nasional dibutuhkan tenaga kerja industri yang kompeten.
"Kami sendiri telah melakukan kerja sama dengan Jepang melalui MoU antara SMTI Yogyakarta dengan National Institute of Technology, Akashi College, Akashi City, Hyogo, Jepang," kata Airlangga.
Dalam hal ini, Kemenperin bersama empat kementerian lainnya menandatangani MoU untuk melakukan penguatan vokasi industri di Indonesia.
Kesepakatan yang akan dilakukan, yakni melalui program sinergi pada jalur pendidikan, pelatihan, pemagangan dan sertifikasi untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja Indonesia.
MoU ini ditandatangani pada Juli 2016, yang menekankan adanya pertukaran pengajar, siswa, serta kursus pendek.
"Selain itu, telah dilakukan pengiriman ke Mitsui Engineering dan Shipbuilding sebanyak 80 orang dalam kurun waktu tiga tahun untuk mendapat pelatihan welding," tambahnya.