"Fasilitas AKSes ini merupakan sarana transparansi informasi dan perlindungan investor, bahkan mampu menarik minat investor baru, termasuk dari kalangan mahasiswa yang sudah mulai ada ketertarikan sebagai investor pasar modal,"katanya.
Ia mengakui saat ini secara nilai investasi belum besar. "Kami berkeyakinan dalam jangka waktu lima hingga 10 tahun ke depan atau saat mereka sudah bekerja, mereka akan menjadi investor pasar modal yang berkualitas dan benar-benar paham berinvestasi, sehingga akan mampu mendukung ketahanan Pasar Modal Indonesia," paparnya.
Lebih lanjut, Azis mengatakan berdasarkan data KSEI, per Februari 2017, Jawa Timur menempati urutan ketiga jumlah investor terbanyak dari 34 provinsi setelah DKI Jakarta dan Jawa Barat, yakni mencapai 67.272 investor efek. Dari jumlah tersebut, tercatat sebanyak 7.677 investor yang berdomisili di Kota Malang.
Sementara jumlah keseluruhan investor efek di seluruh Tanah Air tidak mencapai satu juta orang (932 ribu investor) dari sekitar 257 juta jiwa penduduk Indonesia. Investor tersebut meliputi pemilik efek, Reksa Dana dan surat berharga yang diterbitkan Bank Indonesia (BI).
Untuk menunjang kinerja dan menjawab aktivitas investasi di pasar modal, KSEI meluncurkan berbagai program, di antaranya Sistem Pengelolaan Investasi Terpadu (S-INVEST) yang terintegrasi untuk industri reksa dana, bahkan KSEI menjadi yang pertama di Asia Tenggara yang mengimplementasikan sistem terpadu Reksa Dana.