Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Simpang Susun Semanggi Resmi Beroperasi, Jokowi: Ini Jantung Indonesia

Koran SINDO , Jurnalis-Jum'at, 18 Agustus 2017 |13:27 WIB
Simpang Susun Semanggi Resmi Beroperasi, Jokowi: Ini Jantung Indonesia
(Foto: Koran SINDO)
A
A
A

JAKARTA - Simpang Susun Semanggi (SSS) akhirnya beroperasi setelah diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tadi malam. SSS diperkirakan dapat mengurangi 30% kemacetan di sekitar kawasan Semanggi.

Jokowi yang datang bersama Ibu Negara Iriana Jokowi langsung menuju lokasi peresmian. Tidak perlu menunggu lama, bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumardi, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, dan Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi, Jokowi secara simbolis meresmikan SSS dengan menekan tombol yang langsung ditandai dengan lampu LED berkelir merah putih.

“Hari ini (kemarin) Simpang Susun Semanggi saya resmikan,” kata Jokowi di panggung peresmian SSS, Semanggi, Jakarta Selatan, Kamis 17 Agustus 2017 malam.

Baca Juga: Kehebatan Simpang Susun Semanggi: Naik Turun Sambil Melengkung!

Menurut dia, Semanggi bukan hanya jantung Kota Jakarta, melainkan jantung Indonesia. Artinya, keramaian yang paling padat adalah di Semanggi. Untuk itu, dia mengapresiasi Pemprov DKI Jakarta dalam membangun SSS untuk mengurangi kepadatan Semanggi.

“Ini sangat cepat sesuai dengan rencana dan tepat waktu. Kami juga mengapresiasi pelaksana pengerjaan PT Wijaya Karya,” ungkapnya.

Sebelum meninggalkan lokasi peresmian, Jokowi bertemu dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang datang bersama Sekjen PDIP Hasto Kristianto. Jokowi tak mengobrol banyak dan hanya bersalaman dengan keduanya lalu masuk ke mobil yang sudah menunggu di jalur cepat Sudirman dekat lokasi peresmian.

Dalam pemerintahan Jokowi, Megawati memerhatikan banyak pembangunan infrastruktur, salah satunya SSS. Sejak jauh hari ketika menjabat sebagai Presiden kelima RI, dia sudah melihat kondisi Semanggi yang dibuat Presiden Soekarno pada 1962 tidak lagi mampu menampung kendaraan sehingga kemacetan tak terhindarkan.

Baca Juga: Usai Turunkan Bendera, Jokowi Siap-Siap Resmikan Simpang Susun Semanggi Malam Ini

Namun, persoalan yang dipikirkannya itu sudah disampaikan kepada Jokowi. Menurutnya, kemacetan harus diimbangi dengan jumlah kendaraan. Apabila jumlah kendaraan sampai hari ini dibiarkan tidak dibarengi dengan panjang jalan yang ada di Jakarta dan Pulau Jawa, dia memprediksi pada 2025 kemacetan semakin kronis hingga membuat kendaraan tidak bergerak.

“Jadi harus ada konektivitas antara industri automotif dengan pertumbuhan jalan. Harus ada solusi alternatif yang dibuat dan dipikirkan pemerintah,” kata Megawati.

Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan, dalam suasana memperingati HUT ke-72 RI dan setelah melalui uji coba sejak 28 Juli lalu sampai 10 Agustus ini, SSS dapat mengantisipasi kemacetan di persimpangan jalan protokol Sudirman.

SSS merupakan trouble spot titik kemacetan krusial di jantung lalu lintas Jakarta yang dampaknya sangat luas. Hal ini diakibatkan oleh fenomena weaving-conflict, yakni arus lalu lintas yang bersilangan baik di Jalan Gatot Subroto maupun Jalan Sudirman kolong Jembatan Semanggi.

Benturan antarkendaraan ini menyebabkan arus lalu lintas tersendat dan berpotensi terkunci yang merepotkan aparat Polda Metro Jaya mengatur lalu lintas di simpang ini. Sistem buka-tutup lajur jalan terkadang perlu dilakukan.

“Beroperasinya SSS diperkirakan akan meningkatkan level layanan lalu lintas kendaraan Simpang Semanggi sebesar 30%-40%,” ujar Djarot.

Megaproyek SSS senilai Rp360 miliar ini dibangun dengan salah satu teknologi tercanggih. Dua jembatan layang yang melingkar tersusun atas 333 segmental box girder yang telah dicetak dan disusun cermat. Dari sisi estetika, bangunan tersebut memiliki ornamen daun Semanggi yang dipercantik dengan pencahayaan pada malam hari.

Memiliki jarak 1,9 km, Simpang Susun Semanggi terbagi menjadi dua ramp, yaitu Grogol atau Slipi menuju arah Blok M dan Gatot Subroto menuju arah Jalan MH Thamrin. Kendaraan dari arah Cawang bisa langsung belok kanan menuju MH Thamrin-Monas. Begitu juga dari arah Slipi ke Senayan-Blok M dalam kondisi normal hanya butuh 2-3 menit untuk melintasi jalur tersebut.

Sementara itu, pembiayaan proyek SSS bersumber dari nilai kompensasi pelampauan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) satu pengembang properti di kawasan Semanggi, yakni PT Mitra Panca Persada, satu anak perusahaan dari Grup Mori Building Company. Perusahaan tersebut mengajukan peningkatan KLB dari standar yang ditetapkan, yakni dari KLB-7 menjadi KLB-13.

Dengan disetujui peningkatan KLB ini, Pemprov DKI setelah melalui perhitungan sesuai dengan ketentuan berlaku, mendapat total nilai kompensasi sebesar Rp579 miliar lebih. Kepala Seksi Simpang Jalan Tak Sebidang Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hananto Krisna menuturkan, saat ini tim appraisal masih melakukan perhitungan nilai aset SSS.

Dia mengaku tidak tahu kapan selesainya lantaran kewenangan berada di Badan Pengelolaan Aset Daerah (BPAD). Belum adanya hasil audit tim apraisal, aset SSS belum bisa diserahkan oleh perusahaan swasta ke Pemprov DKI. “Setelah serah terima aset dari pengembang ke Pemprov DKI baru, pemeliharaan menjadi tanggung jawab pemprov,” katanya.

(Dani Jumadil Akhir)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement