Joko mengatakan dengan sumbangan devisa mencapai USD18,5 miliar atau sekitar Rp240 triliun, kelapa sawit menjadi sektor strategis Indonesia. Selain itu, sektor kelapa sawit menyerap lebih dari lima juta tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah-wilayah pinggiran.
"Kami setuju bahwa tata kelola perkebunan kelapa sawit harus berkelanjutan. Di sinilah kita duduk bersama di PBB ini, seperti apa keberlanjutan sektor kelapa sawit yang ingin kita capai bersama," ungkapnya.
Terkait kebakaran lahan, Joko menegaskan koordinasi telah dilakukan oleh pemerintah dan dunia sepanjang tahun ini. Hasilnya, tidak ada lagi laporan adanya titik api dari dalam konsesi perusahaan. Seluruh anggota Gapki juga ikut membantu memadamkan api di luar konsesi perusahaan.
Selama ini, negara-negara Uni Eropa dan Amerika menyoroti tata kelola perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
Namun, permintaan minyak sawit dari kedua wilayah tersebut terus meningkat. Pada semester I-2017, ekspor ke Uni Eropa mencapai 2,7 juta ton atau meningkat 42% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,9 juta ton.
(Widi Agustian)