nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rugi di Semester I, Perum Damri Target Raih Untung Rp52 Miliar Tahun Ini

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 05 September 2017 15:35 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 09 05 320 1769706 rugi-di-semester-i-perum-damri-target-raih-untung-rp52-miliar-tahun-ini-SoinKm4V45.jpg Foto: Giri Hartomo/Okezone

JAKARTA - Pada semester pertama tahun 2017, Perum DAMRI menjadi salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang merugi. Adapun nilai kerugian tersebut pada semester pertama mencapai Rp150 juta.

Meskipun begitu, Pelaksana Tugas (PLT) Direktur Utama Perum DAMRI Sarmadi Usman mengatakan pihaknya akan terus melakukan usaha agar pada akhir tahun 2017 ini tidak lagi merugi. Bahkan pada akhir tahun nanti, pihaknya menargetkan bisa mengantongi laba sebesar Rp52 miliar.

"Memang rugi pada semester 1 tahun 2017 ini tapi yakin kalau tahun 2017 tidak akan rugi," ujarnya saat ditemui di Kantor Pusat Perum Damri, Jakarta, Selasa (5/9/2017).

Baca juga: Tidak Ada Subsidi untuk Operasional Perkotaan, Perum Damri Rugi Rp150 Juta

Akan tetapi lanjut Darmadi, dirinya mampu mencapai target tersebut apabila didukung oleh pemerintah. Salah satu caranya adalah dengan pemberian Public Service Obligation (PSO) atau subsidi untuk angkutan perkotaan.

"Target Rp 52 miliar kita bisa capai target asal pemerintah bisa ngasih PSO untuk angkutan perkotaaan. Damri melayani angkutan perkotaan di 11 kota dan itu tidak di subsidi," jelasnya.

Baca juga: Wah, Dana Pensiun Bank Mandiri Ini Kelola Pesangon Karyawan Perum Damri

Menurut Darmadi, selama ini segmen angkutan perkotaan merugikan karena tidak adanya subsidi untuk operasional yang diberikan oleh pemerintah pusat. Padahal tarif operasional DAMRI angkutan perkotaan lebih tinggi dibandingkan tarif tiket yang diberikan kepada penumpang.

"Pada tahun 2017 ini sampai semester 1 kita diminta untuk melayani angkutan perkotaan dengan bus yang merupakan dari Kemenhub. Tetapi biaya operasional tidak diberikan sehingga berkontribusi merugi untuk segmen perkotaan. Kalau yang komersil tidak merugi, karena menjadi akumulasi satu semester sehingga dampaknya itu merugi," jelas Sarmadi.

"Karena angkutan perkotaan tarif rendah biaya operasional tinggi. Tarif rendah ditentukan Pemda biaya operasional cukup tinggi. Operasional Rp8.500 tarif Rp3.500," imbuhnya.

(rzk)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini