Image

BI: Rupiah Berjaya di Perbatasan Indonesia-Papua Nugini

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis · Jum'at 13 Oktober 2017, 16:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 10 13 278 1794815 bi-rupiah-berjaya-di-perbatasan-indonesia-papua-nugini-78csAzsXem.jpg Sumber Foto: Bank Indonesia

JAYAPURA – Bank Indonesia (BI) terus melakukan sejumlah upaya agar mata uang Rupiah menjadi satu-satunya alat pembayaran yang sah di Tanah Air, termasuk di perbatasan Indonesia –Papua Nugini.

Deputi Gubernur BI Sugeng, mengatakan bank sentral terus mendorong penggunaan mata uang Rupiah dalam bertransaksi di antaranya dengan melakukan sosialisasi penggunaan uang Rupiah, sosialisasi ciri dan keaslian uang, serta mendorong berkembangnya kegiatan usaha penukaran valuta asing bukan bank (KUPVA BB) berijin daerah perbatasan.

Baca Juga: Banyak BUMN Dapat Proyek Pemerintah, Menteri Bambang: Dari Kementerian teknisnya

"Saat ini penggunaan layanan penukaran valuta asing oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) di Pos Lintas Batas Negara (PBLN) sudah berjalan sejak 11 Agustus 2017, namun belum dimanfaatkan secara optimal oleh pelintas batas. Mereka masih memilih untuk bertransaksi dengan menggunakan Kina," ujar Sugeng dalam kunjungan dalam rangka High Level Meeting dan Pertemuan dengan Stakeholder di PBLN Skouw serta Pekan Gerakan Nasional Non Tunai Papua 2017, Jumat (13/10/2017).

Baca Juga: Siap-Siap! Jokowi Bakal Pantau Proyek Strategis Nasional di Banten, Salah Satunya Waduk Karian

Upaya sosialisasi Rupiah dan mendorong berkembangnya KUPVA BB dilakukan rangka menjalankan UU Mata Uang soal Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah NKRI. Pasalnya, di daerah perbatasan Skouw, masih ada transaksi yang menggunakan mata uang Papua New Guinea Kina.

"Pendatang dan pedagang di pasar lebih memilih menggunakan Kina dalam bertransaksi, dikarenakan faktor kemudahan, faktor bisnis yaitu keuntungan yang didapat dari selisih kurs serta faktor latar berlakang pendidikan pendatang yang rendah sehingga masih enggan mengenali Rupiah dengan denominasinya," ungkap Sugeng.

Baca Juga: Menteri Basuki: Infrastruktur Bangunan Harus Tahan Bencana Alam!

Sugeng menambahkan terdapat tiga dimensi utama yang melandasi pemberlakuan kewajiban penggunaan uang Rupiah. Pertama, dimensi hukum. Kedua adalah dimensi kebangsaan agar Rupiah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Terakhir, adalah dimensi ekonomi atau bisnis.

Salah satu upaya yang dilakukan Bank Indonesia adalah menyediakan Rupiah di daerah terdepan, terluar, dan terpencil. Oleh karena itu sejak Juli 2017, BI menyediakan Rupiah dari titik terdepan melalui penyediaan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan layanan KUPVA di PBLN Skouw. "Mudah-mudahan di lokasi yang nantinya lebih strategis jumlah pelintas batas yang menukarkan uang lebih meningkat,” ujarnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini