nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bakal Dialihkan ke LMAN, Begini Sejarah Gedung Daendels

Efira Tamara Thenu , Jurnalis · Rabu 27 Desember 2017 17:50 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 12 27 470 1836481 bakal-dialihkan-ke-lman-begini-sejarah-gedung-daendels-gIiLZPSmPy.jpg Foto: Kemenkeu

JAKARTAGedung AA Maramis atau Gedung Daendels yang berlokasi di Jalan Lapangan Banteng Timur ini merupakan gedung bersejarah. Di balik kokohnya gedung ini, ada sosok Daendels di balik berdirinya gedung putih ini.

Gedung yang dikenal dengan nama AA Maramis atau Daendels ini dibangun pada 7 Maret 1809 atas prakarsa Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels. Ia berencana untuk memindahkan istana Batavia yang mulai kumuh di muara Sungai Ciliwung ke wilayah pusat ibu kota baru Weltevreden.

Mulanya, bangunan ini dirancang sebagai pendamping istana Gubernur Jenderal di kota Bogor atau Buitenzorg Paleis. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Ir. Letkol JC. Schultze yang juga merancang Societeit Harmonie dan mencakup bangunan utama yang besar dengan sayap di setiap sisinya untuk kantor Gubernur Jenderal.

Baca Juga: Istri Menangis Haru, Nama Mar'ie Muhammad Dipakai Gedung Pajak

Tidak hanya itu,  kantor-kantor pemerintah harus terpisah. Selain itu, ada juga rumah tamu dan kandang untuk 120 kuda. Rencana pembangunan Istana Daendels tak pernah terwujud meski rencananya, pondasi menggunakan material dari kasteel lama.

Pada masa pemerintahan Janssens (1811), hanya dipasang atap sederhana di atasnya. Sedang pada masa Raffles, pembangunan istana juga tak berhasil dilanjutkan. Istana Daendels menjadi bangunan rapuh dan kotor dengan burung hantu di depannya.

Bangunan ini berhasil diselesaikan pada tahun 1828 dan diresmikan oleh Komisaris Jenderal  L.P.J Du Bus de Ghisignies. Namun karena biaya yang terbatas membuat bangunan ini belok dari tujuan utamanya yang difungsikan sebagai istana. Akhirnya bangunan ini dijadikan kantor besar urusan keuangan Negara dan instansi pemerintah penting lainnya.

Baca Juga: Diselimuti 85.000 Jenis Tanaman, Gedung Ini Jadi Taman Vertikal Terbesar di Dunia

Pada tahun 1835 bagian ruangan bawah gedung dipakai sebagai Kantor Pas dan Percetakan Negara. Sedangkan bagian lain dipakai sebagai Hoger Gerecht shof dan Algemene Secretarie. Namun, pada 1 Mei 1848, gedung ini resmi menjadi Departement van Justitie (Departemen Kehakiman), kemudian sebagai pusat dokumentasi atau perpustakaan Departeman Keuangan zaman Hindia Belanda.

Berlanjut hingga zaman kekuasaan Jepang di Indonesia, antara tahun 1942 hingga 1945, serta zaman NICA pada tahun 1945 hingga 1949, gedung ini akhirnya resmi diserahkan kepada Indonesia pada tahun 1950. Setelah berhasil diserahkan, gedung ini dimanfaatkan sebagai kantor Kementerian Keuangan RI.

Sampai penjajahan Jepang kegiatan keuangan sehari-hari tetap dipusatkan di gedung ini. Ada gedung Volksraad (Dewan Rakyat masa pemerintahan Hindia Belanda) yang sekarang sudah tidak ada, di sebelah kiri gedung. Di bekas gedung ini didirikan gedung baru yang merupakan gedung utama Departemen Keuangan RI sekarang.

Baca Juga: Syarat Utama Sebuah Gedung, Arsitek: Harus Nyaman!

Terkait nama lain gedung ini yaitu AA Maramis, ini didapat dari nama Menteri Keuangan pertama yaitu AA Maramis. Sebagai Menteri pertama yang menempati gedung ini, namanya berhasil diabadikan menjadi nama gedung ini.

Keterkaitan gedung tersebut dengan berbagai tokoh dan peristiwa dalam kurun waktu 200 tahun, baik secara fisik maupun semantik, menjadikan bangunan tersebut penting dari segi sejarah, kebudayaan dan ilmu pengetahuan nasional. Oleh karena itu, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, maka Gedung AA Maramis dimasukkan ke dalam Cagar Budaya yang wajib dilindungi, dipelihara, dan dimanfaatkan.

Hal ini juga sejalan dengan rekomendasi UNESCO mengenai bangunan dan lingkungan cadar budaya secara mendasar yaitu “Saving the Past for the Future and Give a Future to the Past.”

(Sumber: Kemenkeu)

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini