SUDAH tutup tahun, apakah kamu memiliki resolusi memiliki rumah di tahun baru? Memiliki rumah sendiri masih menjadi impian banyak orang yang menginginkan kehidupan lebih mapan dan stabil. Rumah, apakah itu berbentuk rumah tapak (landed house), apartemen atau rusunami, adalah salah satu kebutuhan pokok setiap orang, selain makanan dan pakaian.
Namun, memiliki rumah bukan hal yang mudah. Maklum, harga rumah terbilang mahal. Kenaikan harga rumah setiap tahun pun cukup kencang. Di Indonesia, harga rumah bisa naik di atas 20% hanya dalam setahun. Pertumbuhan harga rumah jauh lebih kencang dibandingkan rata-rata kenaikan gaji atau penghasilan.
Itulah mengapa kemudian opsi menyicil pembelian rumah menjadi jalan keluar yang paling logis. Saat ini untuk pembelian rumah, para pengembang memberikan banyak opsi selain membeli tunai atau cash keras. Antara lain, pembayaran tunai bertahap mulai dari 12 bulan bahkan ada yang sampai 60 bulan, serta ada pula yang memberikan opsi pembelian properti dengan memanfaatkan kredit pemilikan rumah (KPR).
Dengan KPR, pembeli rumah akan diuntungkan dari beberapa hal. Pertama, pembeli rumah hanya perlu menyiapkan dana uang muka yang nilainya bervariasi tergantung kebijakan bank. Rata-rata bank mensyaratkan uang muka sekitar 30% dari nilai pinjaman. Namun, ada banyak pula bank yang memberikan syarat uang muka KPR mulai 5%-10% saja.
Kedua, melalui KPR, kamu bisa mengatur beban cicilan pembelian rumah sesuai kemampuan penghasilan bulanan kamu. Idealnya, beban cicilan utang yang bisa ditanggung seseorang maksimal sebesar 30%-35% dari nilai penghasilan rutin. Dengan memanfaatkan KPR, kamu bisa menyesuaikan beban cicilan dengan kondisi keuangan. Caranya antara melalui pemilihan bunga KPR yang rendah ataupun tenor masa cicilan yang lebih lama.
Baca Juga : Mau Ajukan KPR? ini Keunggulan dan Syarat KPR BCA 2017
Dengan asumsi di masa mendatang, nilai penghasilan kamu meningkat seiring inflasi, beban cicilan KPR berpeluang lebih ringan. Sebagai gambaran, bila kini penghasilan kamu sekitar Rp 5 juta per bulan, maka beban cicilan yang bisa kamu tanggung maksimal Rp 1,5 juta per bulan. Nilai penghasilan tersebut besar kemungkinan akan terus meningkat sehingga beban cicilan KPR pun bisa terasa lebih ringan. Itu dengan asumsi tidak ada lonjakan bunga KPR. Inilah mengapa memilih skema KPR yang tepat menjadi salah satu kunci dari strategi membeli rumah dengan harga terbaik.
Ketiga, nilai rumah hampir selalu naik. Selama tidak ada krisis hebat, jarang sekali terjadi penurunan harga properti, termasuk harga rumah. Ini hal yang masuk akal mengingat pertumbuhan penduduk yang membutuhkan tanah dan rumah terus bertambah, sedangkan ketersediaan lahan tempat mendirikan rumah cenderung semakin terbatas. Ketidakimbangan dua sisi supply dan demand ini melahirkan tren pertumbuhan harga yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Dengan menimbang hal tersebut, boleh disebut bahwa kredit pemilikan rumah tergolong sebagai kredit produktif mengingat nilai aset yang terus meningkat.