nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Beras di Bangka Belitung Langka, Ini Penyebabnya

Arsan Mailanto, Jurnalis · Jum'at 05 Januari 2018 14:46 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 05 320 1840587 beras-di-bangka-belitung-langka-ini-penyebabnya-3PvcWB33xM.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

PANGKALPINANG - Saat ini kelangkaan beras terjadi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel).  Beras jenis medium di sejumlah pasar tradisional (Babel) mulai mengalami kelangkaan sejak adanya peraturan baru.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Bangka Belitung Ahmad Damiri mengatakan, aturan yang dimaksud setelah adanya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 57 Tahun 2017 Tentang Penetapan harga eceran tertinggi (HET) membagi beras medium dan premium per 1 September 2017 lalu. 

"Berdasarkan Permendag untuk Babel ditentukan HET beras premium Rp13.300 per/kg, dan beras medium seharga Rp9.950 per/kg," ujar Ahmad, kepada awak media di Pangkalpinang, Jumat (5/1/2018). 

Baca Juga: Swasembada Beras Tiga Tahun Beruntun, Mentan: Ini Sejarah Baru

Berdasarkan pantauan di lapangan, menurut Damiri selain terjadi kelangkaan, pihaknya juga menemukan ada pedagang bandel yang menjual beras jenis medium di atas HET.

"Bahan pokok beras ini setelah keluar Permendag 57 (tahun 2017) dan Permentan 31 (tahun 2017) ada kecenderungan beras Babel ini ada kenaikan. Beras ini ada kenaikan dari medium ke premium, jadi sampai saat ini ada kelangkaan beras medium, bukan enggak ada barangnya. Barangnya ada, cuma ada peningkatan kelas sehingga distributor ini dengan adanya kenaikan mau dijual dengan harga tinggi," paparnya. 

Kondisi tersebut, kata Damiri, kian diperparah lantaran mayoritas pasokan beras di Babel berasal dari luar daerah. Sementara di sisi lain produksi beras lokal belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. 

Baca Juga: Stok Beras di Aceh Aman Hingga Akhir Januari 2018

"Jadi gini saat ini di Babel belum panen dan sebelumnya ada pengaruh juga terhadap cuaca. Beras di kita ini sekira 86% didatangkan dari luar daerah, sementara beras lokal cuma sekira 14% sehingga terjadi gejolak," terangnya. 

Sedangkan hasil pemantauan di pasar modern, lanjut Damiri beras medium tetap berdasarkan HET, tapi di pasar tradisional ada kenaikan karena ada beras curah dan sebagainya. 

"Hasil pantauan kita di tujuh kabupaten/kota di Provinsi Bangka Belitung juga ada kenaikan, harga HET itu kan Rp9.250, tapi ada yang jual Rp10.400 ada yang sampai Rp 12 ribu kenaikannya," ungkapnya. 

Menurutnya, lonjakan harga beras medium, sudah terjadi sebelum perayaan Natal dan Tahun Baru, namun hingga kini masih bertahan.

Baca Juga: Sandiaga Uno Pastikan Pasokan Beras Medium Aman

"Jika tidak ada intervensi pemerintah saya kira harga ini akan terus naik. Tapi pemerintah pusat melalui bulog dan atas persetujuan pak Gubernur, pihak bulog akan melakukan operasi pasar melalui distributor akan melakukan intervensi. Jadi nanti bulog akan menjual kepada distributor dengan harga Rp8000 artinya ketika menjual kepada para pedagang harus di bawah HET medium, masih menunggu surat pak Gubernur saat ini masih kita proses," timpal Damiri.

Mengenai produksi beras lokal, sambung Damiri, penjualannya berada di bawah naungan Toko Tani Indonesia. Keberadaan beras lokal dinilai memberi andil bagi intervensi harga beras medium.

"Kita jual dari petani ke pasar konsumen itu harga Rp9.000, memang jumlah produksi kita terbatas sehingga saat ini tidak ada intervensi karena gabahnya belum panen. Harga Rp9.000 sebenarnya cukup berpengaruh tapi karena belum panen jadi tidak bisa berjalan. Kalau harga premium sih lancar, harganya Rp13.300, cuma medium ini bermasalah," pungkasnya. 

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini