nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

YLKI Catat Literasi Transaksi Online di Indonesia Masih Rendah

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 19 Januari 2018 16:26 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 01 19 320 1847482 ylki-catat-literasi-transaksi-online-di-indonesia-masih-rendah-CWGGfHvwZ0.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai rendahnya literasi masyarakat Indonesia terkait e-commerce. Padahal ke depan transaksi online akan sangat berkembang pesat.

Kepala Bidang Pengaduan YLKI Sularsi mengatakan, adanya perbedaan antara pelaku e-commerce Indonesia dengan negara lainnya. Masyarakat Indonesia sebagian besar melakukan bisnis online melalui media sosial, berbeda dengan negara lainnya yang menggunakan aplikasi dengan domain resmi.

"Di Indonesia banyak masyarakat gunakan sosmed yang dipakai untuk jualan dengan promosi dan transaksi. Sosmed kan enggak bisa dijamin domainnya. Ini yang sering dipakai pelaku-pelaku nakal ini," ujar Sularsi di Kantor YLKI, Jakarta, Jumat (18/1/2018).

 Baca Juga: Pengaduan YLKI 2017, Paling Banyak Belanja Online

Rendahnya literasi masyarakat juga terlihat dari banyaknya kerugian yang didapatkan konsumen saat bertransaksi akibat peretasan. Dalam transaksi online memang sangat rentan di retas, Sularsi mengatakan, tak sedikit penyedia aplikasi belanja online memperingatkannya, namun sering kali tidak disimak oleh konsumen.

"Ini ada ketika konsumen lakukan transaksi kepada penyedia jasa e-commerce, setelah mereka melakukan transaksi dan berhasil tapi dapat link pelaku peretasan. Padahal ini sudah diperingatkan pengelenggara jasa e-commerce untuk jangan dibuka linknya, tapi konsumen ga pahami juga," jelas dia.

 Baca juga: Daftar E-Commerce Paling Dikeluhkan 2017

Sularsi mengatakan, terlebih banyak komoditas lain yang saat ini ditransaksikan melalui online seperti kredit uang. Di mana transaksi ini seringkali terjadi penipuan, YLKI sendiri menerima pengaduan terkait hal ini.

Baca juga: Sepanjang 2017, YLKI Terima 22.655 Pengaduan Soal Biro Umrah

Dia menjelaskan, salah satunya sering kali konsumen yang melakukan peminjaman dikirimkan dana berlebihan yang tak sesuai kesepakatan, sehingga harus membayar kredit dengan lebih tinggi.

"Konsumen informasi minta Rp50 juta dikasih Rp100 juta, bunganya tinggi sekali. Ini kan jadi ranah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tapi sekarang mulai banyak terjadi di online dan info tentang jasa ini terbatas oleh konsumen," jelas dia.

Selain itu, YLKI juga menyoroti layanan jasa kurir yang disediakan oleh aplikasi transportasi online. Menurut, Sularsi tidak ada standar yang jelas mengenai jasa ini untuk menjamin kemanan barang maupun penerima dan pengirim barang.

"Harusnya ada kriteria yang jelas untuk penyedia jasa ini. Untuk mastiin kemanan barang, pengirim dan penerimanya," ujar dia.

Oleh sebab itu, dirinya menilai penting untuk adanya literasi mengenai transaksi online agar tak semakin banyak kerugian. Di mana dunia e-commerce memiliki prospek yang tinggi untuk berkembang di masa mendatang. Selain itu perlu juga diaturnya regulasi yang jelas untu memayungi transaksi online.

"Sangat perlu edukasi ke masyaratakat, semakin ke depan belanja online akan jadi tren setidaknya 3 tahun ke depan karena banyak masyarakat yang gunakan layanan data. Ini juga regulasi masih sangat minim, harus segera dibuat," ujar dia.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini