JAKARTA - Kita sering bermimpi untuk menjadi sosok yang hebat bagaikan bos. Wajar saja, sosok bos sangat disegani dan dihormati semua karyawannya. Keinginan inilah yang sering membuat manusia berusaha untuk mewujudkannya.
Kalau dipikir-pikir, menjadi bos tidaklah seenak yang dibayangkan. Memang bos itu disegani, dihormati, dan bisa menyuruh anak buahnya untuk melakukan ini dan itu. Namun, sosok bos itu punya tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan karyawan biasa. Jadi, daripada sibuk bermimpi jadi bos, kenapa tidak menikmati status sebagai karyawan?
Menjadi karyawan juga asyik kok. Bagaimana bisa? Inilah alasannya.
1. Tekanannya Tidak Sebesar Menjadi Bos
Tidak dapat dimungkiri, penghasilan seorang pemimpin jauh lebih besar dibandingkan karyawan. Gaya hidupnya juga tentu berbeda karena gaya hidup pemimpin lebih high class karena uangnya banyak. Namun, pekerjaan bos jauh lebih banyak sehingga hidupnya lebih sibuk daripada yang dibayangkan.
Mulai dari Meeting sana dan sini, membuat peraturan di perusahaan, mendelegasikan tugas, hingga menetapkan kebijakan. Semuanya harus dipikirkan. Belum lagi kalau terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan, pasti pemimpinlah yang akan disalahkan.
Coba bandingkan dengan karyawan yang cukup bekerja sesuai dengan jobdesk. Tidak perlu memikirkan yang macam-macam. Yang terpenting ialah tugas terselesaikan tepat waktu dan hasilnya memuaskan. Jadi, bisa dibilang seorang karyawan itu tidak setertekan seorang bos.
2. Punya Waktu Bersama Keluarga
Waktu kerja seorang karyawan lebih singkat dibandingkan waktu kerja seorang bos. Pada umumnya, jam kerja karyawan rata-rata 48 jam per minggu. Bandingkan dengan jam kerja bos yang mencapai 60 jam per minggu atau lebih. Jangan heran kalau sosok pemimpin tidak punya waktu berkumpul dengan keluarga tercinta.
Padahal, kita semua tahu kalau keluarga menjadi yang paling penting dalam hidup. Tanpa keluarga, kita bukanlah siapa-siapa di dunia ini. Jadi, jangan pernah menyesali status Anda menjadi seorang karyawan. Lagi pula waktu kumpul Anda bersama keluarga jauh lebih banyak.
3. Tekanan Berkurang
Tekanan sebagai seorang bos jauh lebih tinggi karena pekerjaan yang harus diurus jauh lebih banyak dibandingkan karyawan. Apalagi kalau perusahaan sedang mengalami penurunan penjualan, pasti si bos pening setengah mati untuk memikirkan solusi agar penjualan perusahaan kembali normal seperti biasanya.
Sementara karyawan hanya perlu memberikan sedikit masukan. Diterima atau tidaknya masukan tersebut ya balik lagi ke bos. Satu-satunya tekanan yang paling dirasakan karyawan adalah saat menyelesaikan tugas sesuai deadline dan hasilnya harus memuaskan. Selebihnya, bukan lagi tanggung jawab karyawan.
4. Tingkat Stres Lebih Rendah
Karyawan memang harus bekerja sesuai target yang telah ditetapkan sebelumnya. Walaupun demikian, tingkat stres karyawan masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan bosnya. Bayangkan saja, bos harus memikirkan seluruh isi perusahaan. Mulai dari hasil kerja karyawan hingga performa karyawan itu sendiri. Kalau sesuatu terjadi pada karyawan, siapa yang disalahkan? Pasti bosnya, bukan?
Untuk itu, menjadi sosok bos itu tidak semudah kelihatannya. Banyak yang harus dipikirkan. Kalau Anda tidak siap dengan stres berkepanjangan, lebih baik jadi karyawan saja. Mengingat stres berlebihan dapat berdampak pada gangguan jiwa.
5. Risiko Kerja Lebih Rendah
Tingkat risiko antara bos dan karyawan tentu saja berbeda. Tingkat risiko bos ada di tingkat paling atas, sedangkan karyawan ada di bawah. Mengingat tingginya tingkat risiko seorang bos, apa pun yang terjadi pasti berimbas pada bos. Ketika salah menentukan kebijakan, bos itulah yang harus mempertanggungjawabkan semuanya.
Tidak semua orang dilahirkan menjadi sosok bos. Hanya orang yang bermental baja yang memang pantas diakui sebagai bos. Kalau tidak memiliki mental sekuat bos, ada baiknya untuk mengurungkan niat menjadi bos.
Syukuri Status Pekerjaan Saat Ini
Apa pun jabatan yang diduduki saat ini, syukurilah itu sebagai anugerah. Kalau Anda terus-menerus mengeluh tentang jabatan, yang ada hasil kerja juga tidak akan maksimal. Kesempatan untuk maju juga akan berkurang. Jadi, nikmati apa yang ada dan lakukan yang terbaik.
(Risna Nur Rahayu)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.