Untuk harganya, Moeldoko belum bisa mengatakannya secara pasti, tapi tidak akan lebih dari Rp5 miliar. "Yang jelas jauh lebih murah dari (bus listrik) di luar. Saya belum bisa pastikan. Tapi antara USD300 ribu, enggak sampai Rp5 miliar," kata Moeldoko.
Sementara itu, untuk produksi nantinya akan mencapai 30-40 unit per bulan. Ia juga menargetkan bus listrik ini nantinya bisa menyerap komponen lokal di atas 60%. "Saat ini, prototipe kedua bus listrik MAB sudah memiliki kandungan lokal sebesar 45%," terang dia.
Lebih lanjut Moeldoko menekankan tujuan dari dibuatnya bus listrik yakni sebagai komitmen mengurangi emisi gas 20%. “Selain itu bus ini membantu Pemerintah dalam membangun komitmen dunia. Selanjutnya efisiensi, karena kedepan itu menurut saya baterai itu adalah masa depan, masa depan ada di baterai. Saya mendahului, orang lain berbicara baterai,” tegasnya.
Untuk langkah selanjutnya, Moeldoko akan mengupgrade bus, sehingga nantinya semakin nyaman. Dari beberapa karoseri sudah punya standar yang bagus ini nanti juga mungkin bisa kerjasama dengan Gemilang yang dari Malaysia yang bodinya sudah menggunakan alumunium.
“Sampai saat ini sudah banyak negara yang bisa bekerja sama mengenai bus ini, seperti berikutnya ada dari Jerman. Ada juga beberapa sparepart yang nanti bisa kerjasama dengan kita, seperti dari Korea juga begitu (suplay ke mobil listrik MAB),” paparnya.
(Anto Kurniawan)
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.