nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Produksi Bensin Standar EURO 4, Pertamina Diyakini Mampu Tandingi Malaysia

Feby Novalius, Jurnalis · Selasa 03 April 2018 18:20 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 04 03 320 1881627 produksi-bensin-standar-euro-4-pertamina-diyakini-mampu-tandingi-malaysia-lGH7MA5Smn.jpg SPBU Milik Pertamina. (Foto: Okezone/Arief)

JAKARTA - Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) menyakini Indonesia bisa seperti Malaysia yang mampu memproduksi bensin RON 95 sulfur content 50 ppm (standar EURO 4) dengan harga jual Rp7.140 per liter.

Direktur Eksekutif KPBB Ahmad Safrudin mengatakan, Indonesia dan Malaysia sama-sama menggunakan patokan harga MOPS (Mean Oil Platts Singapore) atau merujuk Cost of Goods Sold (HPP) BBM di Amerika Serikat (AS). Artinya, Indonesia juga bisa memperoleh bensin RON 95 dengan kadar belerang max 10 ppm dari Bursa Minyak Singapura MOPS sebagaimana diperoleh Malaysia.

"Ini peluang melaksanakan adopsi teknologi kendaraan yang lebih advance dengan EURO 4 sebagai upaya melindungi warganya dari pencemaran udara," tuturnya di Kantor KPBB, Jakarta, Selasa (3/4/2018).

Baca Juga: Pertalite dan Pertamax Dinilai Sudah Tak Penuhi Standar EURO 4

Ahmad mengatakan, harga BBM berkualitas EURO 4 ternyata juga tidak mahal. Di Malaysia, memperoleh harga MOPS untuk bensin RON 95 sulfur content 50 ppm (standar EURO 4) pada harga RM2,13 per liter atau setara Rp7.140 dan Solar 51 itu setara Rp7.047 per liter. "Jadi ini juga memberikan harga yang mampu membuka peluang daya saing menghadapi persaingan global," tuturnya.

Dia mengatakan, cara impor BBM berkualitas itu bisa menjadi jawaban ketidaksiapan kilang Pertamina yang belum dimodifikasi sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan teknologi otomotif. Padahal, modifikasi kilang sudah diminta dilakukan sejak tahun 2.000.

"Alasan tiada dana untuk investasi kilang baru, upgrade kilang atau pun modifikasi kilang menjadi tidak berdasar. Sebuah perusahaan besar seperti Pertamina tentu memiliki pembiayaan yang sangat cermat, sehingga bisa membangun kilang baru," tuturnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini