nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Erdogan dan Putin Bangun PLTN Pertama di Turki Senilai Rp274 Triliun

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 05 April 2018 11:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 04 05 320 1882403 erdogan-dan-putin-bangun-pltn-pertama-di-turki-senilai-rp274-triliun-CTCtrZeJnD.jpg Ilustrasi: PLTN Pertama di Turki (Reuters)

ANKARA – Hubungan Turki dan Rusia memasuki babak baru dengan kerja sama pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertama di Turki.

PLTN Akkuyu bernilai USD20 miliar itu dibangun di Provinsi Mersin. Presiden Turki Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin secara resmi memulai pembangunan PLTN tersebut pada Selasa 3 April 2018 waktu lokal.

PLTN itu akan dibangun perusahaan energi nuklir Rusia, Rosatom, dan akan ter diri atas empat unit yang masing-masing unit memiliki kapasitas 1.200 megawatt.

Erdogan dan Putin menandai peletakan batu pertama pem bangunan PLTN itu melalui video link dari Ankara.

“Saat keempat unit itu beroperasi, PLTN akan memenuhi 10% kebutuhan energi Turki,” papar Erdogan, di kutip kantor berita Reuters.

Presiden Turki menambahkan, meski program itu sempat tertunda, negara itu masih berencana mulai menghasilkan listrik di unit pertama PLTN pada 2023. Saat konferensi pers bersama Putin, Erdogan menjelaskan biaya proyek itu mungkin melebihi rencana USD20 miliar.

PLTN dengan total kapasitas 4.800 megawatt itu bagian dari visi 2023 yang dicanangkan Erdogan. Pada 2023 menjadi tonggak 100 tahun sejak berdirinya Turki modern.

Kehadiran PLTN itu akan mengurangi ketergantungan Turki pada im por energi. Sejak Rusia mendapat kontrak itu pada 2010, proyek tersebut mengalami beberapa penundaan. Bulan lalu sumber yang terlibat dalam program itu menjelaskan, Akkuyu tapaknya akan melampaui target 2023 tapi Rosatom berkomitmen memenuhi target tersebut.

Rosatom juga berupaya mencari mitra lokal untuk memegang 49% saham dalam proyek tersebut. Kantor berita Interfax mengutip penjelasan Rosatom bahwa penjualan 49% saham itu tampaknya akan tertunda tahun ini hingga 2019. Perusahaan- perusahaan Turki tampaknya enggan dengan besarnya pendanaan yang dibutuhkan dalam proyek tersebut.

Mereka juga khawatir tidak menerima cukup pembagian dalam proses konstruksi PLTN itu. Erdogan menjelaskan, Turki mungkin bekerja sama dengan Rusia dalam berbagai proyek pertahanan, selain sistem pertahanan rudal S-400 yang telah disetujui Moskow. Erdogan tidak menjelaskan lebih rinci lagi tentang proyek-proyek pertahanan tersebut.

Turki telah menandatangani kesepakatan membeli sistem S-400 pada Desember lalu hingga membuat Barat khawatir karena sistem itu tak dapat diintegrasikan dalam arsitektur militer NATO. Turki menjelaskan, rencana pengiriman S-400 akan di percepat hingga Juli 2019, dari sebelumnya pada kuartal pertama 2020. Kesepakatan itu bernilai sekitar USD2,5 miliar.

“Kami majukan tanggal pengiriman dalam kesepakatan yang ditandatangani dengan Rusia untuk menyediakan sistem S-400 dan mendapat tanggal Juli 2019,” ungkap Wakil Menteri Industri Pertahanan Turki Ismail Demir dalam akun Twitter. Presiden Iran Hassan Rouhani juga bertemu Erdogan dan Putin untuk konferensi tingkat tinggi membahas Suriah di Ankara. (Syarifudin)

(dni)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini