nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pasar Saham Fluktuatif, Produsen Pipa Rucika Tunda IPO

Ulfa Arieza, Jurnalis · Rabu 16 Mei 2018 14:09 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 05 16 278 1898960 pasar-saham-fluktuatif-produsen-pipa-rucika-tunda-ipo-G9GkpxE569.jpg Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Kondisi pasar modal yang cenderung fluktuatif membuat PT PT Wahana Vinyl Nusantara menunda rencananya untuk melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO). Produsen pipa PVC itu memilih momentum yang tepat untuk masuk ke pasar.

Direktur Penilaian BEI Samsul Hidayat mengatakan, selain PT Wahana Vinyl Nusantara, perusahaan yang menunda IPO adalah PT Harvest Time dan PT Artajasa Pembayaran Elektronis. Akan tetapi keduanya, memiliki pertimbangan yang berbeda dengan PT Wahana Vinyl Nusantara.

IHSG Cetak Rekor Tertinggi Baru dengan Ditutup Naik 33,70 Poin

"Artajasa itu lebih pada peraturan Bank Indonesia, kemudian yang PT Harvest itu enggak tahu kenapa, kalau Wavin mungkin ke masalah market," ujarnya di Gedung BEI, Rabu (16/5/2018).

Meskipun satu perusahaan telah pasti menunda IPO akibat kondisi pasar, akan tetapi Samsul meyakini bahwa volatilitas pasar saat ini tidak berpengaruh terhadap rencana perusahaan lainnya untuk melantai di pasar modal. Sebab, proses persiapan IPO sendiri memakan waktu hingga hitungan tahun.

Dalam persiapan itu, calon emiten juga telah mempertimbangkan sisi pembeli saham.

IHSG Cetak Rekor Tertinggi Baru dengan Ditutup Naik 33,70 Poin

"Saya kira enggak (menurunkan rencana IPO) karena rencana IPO itu bukan rencana sehari tapi rencana yang sudah diputuskan bertahun tahun, dan bisanya minat belinya juga sudah ada. Anchor investornya bisanya juga sudah ada," jelas dia.

Samsul juga menuturkan bahwa pelemahan yang terjadi saat ini bukan dalam kondisi ekstrim. Di mana volatilitas cenderung dipengaruhi sentimen eksternal pasar.

Toh, ketika pasar melemah banyak pula investor yang justru memanfaatkan momentum ini untuk membeli saham yang sudah terdiskon. Sebab, mereka percaya, fundamental perekonomian maupun kinerja emiten di pasar modal masih bagus.

"Bisa dikatakan masih reguler karena kondisinya tidak sama dengan 2008 dan 2004. Jadi kondisinya masih reguler karena pengaruh dari kebijakan di negara maju seperti AS dan China," kata dia.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini