nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Suku Bunga Acuan BI Naik, Pertumbuhan Kredit Diprediksi 9%-10%

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 18 Mei 2018 15:49 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 05 18 320 1899895 suku-bunga-acuan-bi-naik-pertumbuhan-kredit-diprediksi-9-10-2KI8AqNACS.jpg Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA - Kenaikan BI-7 Days Reverse Repo Rate (7 Days Repo Rate) sebesar 25 basis points (bps) menjadi 4,5% dinilai akan berdampak sedikit (slightly) penurunan pertumbuhan ekonomi. Hal ini didorong respons perbankan untuk menaikkan suku bunga kredit dan deposito.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyatakan, respons kenaikan suku bunga antar bank akan terjadi dalam kurun waktu 2-3 bulan pasca Bank Sentral menaikkan suku bunga acuannya. Dia mengakui, dampak kenaikan suku bunga kredit akan berdampak pada pelemahan daya beli masyarakat.

Penyaluran Kredit Perbankan Tumbuh 8 Persen

"Akan berdampak pada perekonomian, khususnya dari sisi sektor rill. Karena cost of borrow-nya akan semakin mahal, sehingga pertumbuhan kredit pun akan lebih rendah dari ekspektasi sebelumnya," ujarnya di Gedung BI, Jakarta, Jumat (18/5/2018).

Kendati demikian, menurutnya pertumbuhan kredit tahun ini akan lebih tinggi ketimbang tahun lalu yang mencapai 8,1%. Dia pun memproyeksikan pertumbuhan kredit mencapai 9%-10% hingga akhir tahun, jauh lebih rendah dari target BI yang sebesar 10%-12% di tahun ini.

Penyaluran Kredit Perbankan Tumbuh 8 Persen

"Tapi permintaan mudah-mudahan bisa lebih baik dibanding tahun lalu. Sehingga pertumbuhan kredit bisa lebih tercapai, ya at least 9%-10% sampai akhir tahun ini. Sehingga masih bisa men-support (pertumbuhan ekonomi)," katanya.

Di sisi lain Josua menilai, kebijakan menaikkan suku bunga acuan merupakan hal yang tepat saat ini untuk mendorong stabilitas makroekonomi di tengah dinamika ekonomi global. Terlebih saat ini Rupiah terus bergerak melemah menembus level Rp14.000 per USD.

"Karena stabilitas memang perlu didorong dan diperkuat, agar lebih optimal. Daripada volatile (kurs Rupiah terhadap USD), lebih baik pertumbuhannya yang sustain dan tetap terjaga," katanya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini