JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) anjlok sekaligus menembus level paling dalam yakni Rp14.500-an per USD.
Menanggapi depresiasi Rupiah tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, bahwa kondisi ini tidak lepas dari pengaruh pernyataan Gubernur Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell.
Powell menyatakan bahwa ekonomi AS berada di titik puncak selama beberapa tahun terakhir. Hal itu ditandai salah satunya dengan inflasi Negeri Paman Sam yang mencapai target The Fed sebesar 2,0%.
Pernyataan Powell, kata Darmin, diterjemahkan sebagai sinyal kenaikan suku bunga acuan The Fed, sehingga mendorong penguatan Dolar AS dan berujung pada pelemahan Rupiah.
Baca Juga: Rupiah Sore Ini Rp14.495, Masih Dapat Tekanan dari Dolar
"Orang membacanya dia (Powell) mau naikin ini (suku bunga Acuan The Fed) beneran," kata dia di kantornya, Jakarta (20/7/2018).
Akan tetapi, Darmin mengatakan pelemahan Rupiah yang terus berlanjut akhir-akhir ini, tidak dapat diterjemahkan sebagai pencarian titik keseimbangan Rupiah baru.
"Segala sesuatu itu masih bisa naik dulu atau turun lagi, itu masih bergerak begitu. Jadi jangan terlalu dianggap itu sudah keseimbangan baru," tegas Darmin.
Melansir Bloomberg Dollar Index, Jumat (20/7/2018) pukul 17.00 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange melemah 53 poin atau 0,37% ke level Rp14.495 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.474 per USD-Rp14.545 per USD.
Sementara Yahoofinance mencatat Rupiah melemah 5 poin atau 0,03% ke level Rp14.475 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.468 per USD-Rp14.540 per USD.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.