nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pilih Energi Terbarukan atau Energi Murah Perusak Lingkungan?

Feby Novalius, Jurnalis · Jum'at 27 Juli 2018 12:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 07 27 320 1928111 pilih-energi-terbarukan-atau-energi-murah-perusak-lingkungan-Ady96UvgXJ.png Pembangkit Listrik Tenaga Angin (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) merupakan penentu tercapainya kedaulatan energi. Indonesia pun memiliki peluang membuat kedaulatan tersebut karena memiliki sumber energi terbarukan berasal dari air, mikro hidro, angin (bayu), tenaga surya, gelombang laut dan panas bumi.

Meski sumber energi terbarukan banyak, pemanfaatannya belum bisa memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Salah satu kendala besar pengembangan EBT adalah mahalnya teknologi.

Menurut Praktisi Bisnis Pembangkit Listrik Handoko, energi primer saat ini lebih dari 70% pembangkit listrik di Indonesia menggunakan minyak bumi dan batu bara. Melimpahnya batubara dalam negeri membuat PLTU Batubara (Coal Fired Power Plant/ CFPP) menjadi kontributor terbesar dalam konfigurasi pembangkit.

Dalam jangka pendek, PLTU Batubara bisa menjadi solusi penyediaan energi listrik yang terjangkau dari sisi harga. Tetapi bagaimanapun, keberadaan batubara dan minyak bumi semakin berkurang dan habis pada akhirnya.

PLTA Berkapasitas 2x55 MW Ini Manfaatkan Air Waduk Jatigede

“Volatilitas harga minyak dunia yang sangat dinamis dan selalu berkait dengan harga komoditas batu bara, juga akan turut mengerek harga jual listrik. Bayangkan saja bila tiba-tiba harga minyak dunia melaju sampai USD100 per barrel misalnya pasti biaya produksi listrik akan meningkat tajam,” terangnya dalam keterangan tertulis, Jakarta, Jumat (27/7/2018).

Dia mengatakan, sebenarnya sudah cukup lama Indonesia menguasai teknologi untuk pembangkit tenaga air, baik PLTA maupun PLTMH (pembangkit listrik tenaga minihidro). Juga Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi/ Geothermal.

WOW!!! Pembangkit Listrik Tenaga Surya Abakan Memiliki Kapasitas 5.2 MW

Tak hanya itu, sungai-sungai di Indonesia menyimpan potensi energi yang sangat besar, sekitar 75 giga watt (Gw). Begitu juga posisi Indonesia yang berada di area ring of fire Asia Pasifik, yang menjadi tempat bertemunya sejumlah gunung berapi dan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan potensi geothermal terbesar ke-2 di dunia setelah Amerika Serikat.

“Untuk harga jual listrik, PLTU batu bara memang paling murah. Saat ini PLN bisa membeli dengan harga USD5 cent/kWh dari Independent Power Producer (IPP) tetapi harga batubara fluktuatif dan juga tidak ramah lingkungan. Pembangunan PLTA harganya mahal, antara lain karena porsi pekerjaan sipil (civil work) yang besar, seperti pengerjaan bendungan dan penstock (pipa pesat) serta lokasinya yang sulit diakses. Tetapi energi primernya bisa diperoleh dengan gratis dan bisa dibangun beberapa pembangkit dalam satu aliran sungai dalam jarak yang berdekatan (cascade/ berjenjang) dengan memanfaatkan perbedaan elevasi,” ujarnya.

(feb)

Menyinggung soal biaya investasi (Capital Expenditure), pembangkit listrik EBT masih lebih mahal dari pembangkit energi fosil. Misalnya, PLTP (geothermal) bisa menelan investasi sekitar USD4 juta/mw, jauh lebih mahal dibanding PLTU batu bara yang sekitar USD1,5 juta – USD2 juta/mw.

Perbedaan Capex ini disebabkan masing-masing komoditi ini berbeda cara memperolehnya, dan juga tingkat kesulitannya.

Berkapasitas 5 MWp, PLTS Kupang Diklaim Pembangkit Listrik Terbesar di Indonesia

“Seperti listrik yang berasal dari PLTP, fase eksplorasi sumber energi sudah memakan biaya sangat besar. Harus memakai teknologi tinggi dan mahal, ditambah lagi dengan success rate yang rendah. Ketika Anda mengeksplorasi sebuah lapangan geothermal dan melakukan pengeboran, tingkat keberhasilannya tak lebih dari 20%,” papar Handoko.

Demikian juga investasi yang dibutuhkan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS/ Solar Cell) sangat besar. Sebab untuk pembangunan PLTS dibutuhkan investasi sekitar Rp28 miliar, di mana komponen terbesarnya adalah pada biaya produksi panel surya dan baterai. Selain itu, PLTS juga membutuhkan area yang sangat luas.

WOW!!! Pembangkit Listrik Tenaga Surya Abakan Memiliki Kapasitas 5.2 MW

PLTS hanya dapat beroperasi di siang hari, sehingga untuk mengimbanginya diperlukan juga dukungan dari pembangkit listrik yang berasal dari energi fosil.

“Tapi saya yakin, akselerasi pemanfaatan solar cell semakin masif, seiring dengan semakin majunya teknologi panel surya dan baterai,” tambahnya.

(feb)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini