Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Rp14.600/USD karena Krisis Turki, Menko Darmin: Jangan Dilebih-lebihkan

Giri Hartomo , Jurnalis-Senin, 13 Agustus 2018 |14:58 WIB
Rupiah Rp14.600/USD karena Krisis Turki, Menko Darmin: Jangan Dilebih-lebihkan
Foto: Menko Darmin soal Krisis Turki (Okezone)
A
A
A

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah mendadak anjlok cukup dalam pada perdagangan awal pekan ini. Dalam data Bloomberg pada pukul 11.30 WIB, nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terjungkal 0,91% atau 132 poin ke posisi Rp14.610 per USD.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, tidak terlepas dari krisis ekonomi yang terjadi di Turki. Seperti diketahui, saat ini krisis keuangan terjadi di Turki akibat mata uang Turki Lira yang jatuh terhadap dolar AS hingga 18%.

Bahkan menurut Darmin, dampak dari perang dagang ini bukan hanya berdampak kepada Indonesia saja. Akan tetapi negara-negara lain pun sana akan terkena dampaknya.

"Sebenarnya bukan hanya Rupiah. Kepada semua emerging market itu apa namanya, sebenarnya euforia saja menurut saya mestinya enggak," ujarnya saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (13/8/2018).

 Nilai Tukar Rupiah atas Dolar Amerika Serikat Sempat Tembus Rp14.545

Meskipun begitu lanjut Darmin, market seharusnya tidak perlu menanggapinya secara berlebihan. Sebab pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sendiri hanya bersifat sementara.

Menurut Darmin, banyak sekali pendapat orang yang justru melebih-lebihkan krisis ekonomi yang terjadi di Turki. Sebab menurutnya, krisis yang terjadi di suatu negara tidak selalu harus berimbas kepada negara lainnya.

"Sebenarnya itu sih terlalu berlebihan itu, Turki itu memang ada hal-hal yang khusus di sana sehingga dia kena dampak yang enggak mesti berlaku kepada negara-negara lain," ujarnya

Justru menurutnya, yang akhirnya membuat Rupiah melemah adalah anggapan-anggapan orang di luar terkait krisis di Turki itu sendiri. Karena anggapan itulah akhirnya Rupiah mengalami gejolak yang akhirnya bisa tembus hingga Rp14.600 per USD.

"Masalahnya adalah setelah dia kena kemudian orang mulai bilang 'oh ini imbasnya besar macam-macam'," ucapnya.

 Nilai Tukar Rupiah atas Dolar Amerika Serikat Sempat Tembus Rp14.545

Darmin menceritakan, masalah yang ada pada Turki bukan menyangkut dari masalah yang ada di negara lain. Sebab masalah tersebut merupakan murni kebijakan dari Presiden Amerika Serikat yakni Donald Trump yang ikut campur dalam urusan pribadi dari negara Turki.

Salah satunya adalah dengan pengenaan bea masuk baja seperti yang dilakukan kepada Cina. Hal tersebut bertujuan untuk mengultimatum pemerintah Turki untuk melepaskan pendeta yang ditahan karena diduga terlibat kudeta.

"Ini kan sebenarnya Turki itu ya biasalah ini soal Trump ini. Mister Trump itu tiba-tiba beberapa Minggu lalu dibilang dua Minggu atau seminggu yang lalu ada pastur di sana Turki yang ditahan diadili barangkali enggak tau saya yang dianggap terlibat kudeta itu. Setahun dua tahun lalu," jelasnya.

Sebagai negara yang berdaulat, lanjut Darmin, tentunya Turki enggan menuruti kata-kata dari Trump. Dan akhirnya hal tersebut memicu kemarahan dari Trump yang memutuskan untuk membatasi impor.

"Dia ditahan tahu-tahu Trump bilang 'lepasin tuh orang, kalau enggak saya akan kenakan bea masuk alumunium dan bahan'. Nah ya negara namanya ditekan begitu enggak mau dia," jelasnya

Sebagai informasi, sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani menuturkan, banyak faktor yang mempengaruhi Rupiah setiap harinya. Dari sisi global, Rupiah ikut terimbas dengan krisis keuangan yang terjadi di Turki. Akibat krisis, mata uang Turki, Lira jatuh terhadap Dolar AS hingga 18%.

Sri Mulyani mengatakan, permasalahan di Turki tergolong cukup serius karena bersinggungan dengan faktor politik dan keamanan di Turki. Akibatnya, kondisi perekonomian Turki cukup tertekan.

"Adanya persoalan yang sangat serius dari mulai masalah currency-nya tapi juga kemudian pengaruhnya exposure kepada ekonomi domestik dan terutama dari dimensi politik dan security di sana," kata dia.

(Dani Jumadil Akhir)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement