IPO, Superkrane Pasang Harga di Rp700/Saham

Selasa 02 Oktober 2018 15:02 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 02 278 1958597 ipo-superkrane-pasang-harga-di-rp700-saham-Il9fj9Gywh.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA – Perusahaan penyedia jasa sewa crane, PT Superkrane Mitra Utama Tbk menetapkan harga penawaran umum perdana senilai Rp700 per saham. Dengan mempertimbangkan hasil bookbuilding yang telah dilakukan para penjamin emisi efek dengan melakukan penjajakan dengan investor, ditetapkan harga penawaran Rp700 per saham. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam prospektus ringkasnya yang dirilis di Jakarta, yang dikutip dari Harian Neraca, Selasa (2/10/2018).

Baca Juga: BEI: Ada 23 Perusahaan Lagi yang Siap IPO

Dalam aksi korporasi penerbitan saham baru atau initial public offering (IPO), perusahaan berencana melepas 300 juta saham atau setara 20% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan. Dalam masa penawaran awal (bookbuilding) yang berlangsung pada 14 Agustus-20 September 2018, jumlah permintaan terbanyak yang diterima penjamin pelaksana emisi efek berada di kisaran harga Rp900-Rp1.260 per saham.

Pembukaan Pagi Ini IHSG Anjlok Nyaris 1% 

Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek IPO Superkrane Mitra Utama, yakni UOB Kayhian Sekuritas. Adapun penjamin emisi efeknya terdiri atas MNC Sekuritas, Phillip Sekuritas Indonesia, dan Valbury Sekuritas Indonesia. Pelaksanaan penawaran umum akan berlangsung pada 2 Oktober-5 Oktober 2018. Perseroan dijadwalkan mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia pada 11 Oktober 2018. Jumlah seluruh penawaran umum adalah Rp210 miliar.

Pembukaan Pagi Ini IHSG Anjlok Nyaris 1% 

Nantinya hasil IPO, dana tersebut akan digunakan untuk pembayaran uang muka pembelian alat berat/crane sebesar 50%, pelunasan utang bank dan leasing termasuk pembayaran pinalti pelunasan utang tersebut 28,2%, dan sekitar 21,8% untuk modal kerja perseroan. Direktur Utama Superkrane, Yafin Tandiono pernah bilang, IPO ini diambil sebagai langkah untuk strategi perusahaan dalam rangka meningkatkan jumlah armada yang dimilikinya dengan memperkirakan kebutuhan alat berat untuk peningkatan pembangunan infrastruktur ke depannya.”Diperkirakan untuk beberapa tahun ke depan kebutuhan nasional akan alat berat lifting equipment khususnya crane akan terus bertambah," ujarnya.

Baca Juga: 3 Klien Mandiri Sekuritas Tunda Rencana IPO

Saat ini perusahaan terlibat dalam pengerjaan proyek pembangunan jalan tol, light rapid transit (LRT) dan mass rapid transit (MRT). Di tahun 2019, Superkrane membidik pendapatan di atas Rp700 miliar. “Tahun 2018, target pendapatan kami Rp600 miliar yang sampai 18 September sudah tercatat Rp440 miliar,” ujar Yafin Tandiono Tan.

Dia menjelaskan, kontributor utama pendapatan Superkrane berasal dari proyek-proyek infrastruktur seperti kereta ringan (light rail transit/LRT), mass rapid transit (MRT), pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan perluasan pabrik chemical plant. Lalu, proyek migas di Tangguh, pertambangan gas, serta pertambangan emas dan batubara.“Permintaan sewa crane tetap berjalan seiring maraknya pembangunan infrastruktur pemerintah, serta pembangunan PLTU dan migas di Tangguh,” ujar dia.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini