Menurut Silmy, persaingan ini sangat tidak sehat bagi industri baja dalam negeri. Karena keinginan untuk bersaing membuat para perusahaan baja berlomba-lomba memberikan harga baja yang murah.
Harga baja yang murah dan tidak sesuai standar membuat perusahaan tidak memproduksi baja dengan asal-asalan. Para perusahaan baja berlomba-lomba untuk menghasilkan baja lewat proses induction furnish.
"Kemudian juga ada satu karena persaingan. Proses menjadi tidak diutamakan. Sekitar 30% penghasil baja long product itu adalah dari induction furnish. Kalau dibiarkan, maka yang paling dirugikan adalah konsumen," jelasnya.
Baca Juga: BUMN Kontruksi Tak Sepenuhnya Gunakan Baja Lokal
Oleh karena itu, dirinya sudah berkomunikasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terkait hal ini. Karena menurutnya jika hal ini terus di biarkan bisa berakibat terhadap kualitas bangunan dan keselamatan penggunaannya.