nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bos Lion Air Siapkan Dokumen Pembatalan Pesanan Pesawat Boeing

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Sabtu 08 Desember 2018 11:25 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 08 320 1988465 bos-lion-air-siapkan-dokumen-pembatalan-pesanan-pesawat-boeing-gSZk8JdlhT.jpg foto: Okezone

JAKARTA - Tragedi jatuhnya pesawat Boeing 737-Max 8 Lion Air di perairan Karawang (29/10) memicu konflik bisnis antara LionMentari Airlines dan pabrikan Boeing Co. Bahkan, pesanan ratusan pesawat senilai USD22 miliar terancam batal.

"Boeing tidak melakukan prosedur dari MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System/sistem manuver pesawat Max-8 ) yang seharusnya, kok saya yang disalahin?" ujar pemilik maskapai Lion Air, Rusdi Kirana, seperti yang dilansir dari BBC News Indonesia, Sabtu (8/12/2018).

Rusdi pun menganggap sikap Boeing menyudutkan dirinya yang tengah dirundung masalah.

"Apakah saya sebagai pihak yang sudah dalam kondisi yang sulit ini masih boleh diperlakukan seperti itu? Sedangkan saya customernya, sedangkan saya one of the biggest customernya," tuturnya.

Rencana pembatalan pesanan dari Boeing ini berawal dari pernyataan Boeing yang menanggapi laporan awal (preliminary report) Komite Nasional Keselamatan transportasi (KNKT) atas investigasi kasus jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 pada 29 Oktober lalu.

Dalam keterangan tertulis di laman situnya, Boeing menyatakan bahwa "penumpang yang terbang dengan Boeing 737 MAX ke ratusan destinasi di seluruh dunia setiap harinya, kami menjamin 737 MAX sama amannya dengan pesawat lain yang telah terbang selama ini." ungkapnya.

Hal ini ditegaskan lagi oleh CEO Boeing Dennis Muilenburg dalam wawancaranya dengan CNBC seperti dikutip Reuters, Kamis (6/12).

"Kami tahu pesawat-pesawat kami aman," ujar Dennis. "Kami belum mengubah fisolosi rancangan kami," katanya.

Lion Air sendiri telah memesan 218 unit Boeing 737 MAX-8, 4 unit MAX-9, dan 50 unit MAX-10. Saat ini, sudah ada 10 unit Boeing 737 MAX 8 yang dioperasikan Lion Air untuk penerbangan domestik, umrah, dan charter dengan rute Indonesia-Cina.

Rusdi kecewa karena perusahaan pembuat pesawat asal Amerika Serikat itu terkesan menyalahkan Lion Air dalam tragedi yang menewaskan 189 penumpang dan kru pesawat tersebut.

"Sebagai partner, ayolah kita duduk. Kita bicara apa nih untuk ke depannya kita lebih baik, tanpa blaming(menyalahkah) tanpa melemparkan tanggung jawab itu," ungkapnya.

"Nah, saya serius batalkan serious consider mau membatalkan karena apa? Karena persoalannya, apakah boleh hasil penemuan KNKT yang masih preliminary itu ditanggapi?," ungkapnya.

"Apakah boleh penanggapannya itu dibuat (seperti) pertanyaan kepada KNKT yang mengarah seakan-akan saya tidak merawat pesawat dengan benar?"

Rusdi sendiri mengaku belum berbicara dengan Boeing untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Saat ditanya tentang konsekuensi yang terancam harus ditanggung Lion Air jika membatalkan pesanan 188 unit Boeing 737 MAX 8, Rusdi menjawab, "kalau dibilang, konsekuensi apa? Ya kita kan sesuai kontrak." jelasnya.

Rusdi menolak menjelaskan lebih detil.

Pengamat penerbangan Ruth Hanna Simatupang menganggap rencana pembatalan pesanan pesawat Boeing oleh Lion Air sebagai sesuatu yang wajar.

"Ya ini sih biasa banget di dunia bisnis ya. Tinggal sekarang gentlemen's agreement aja, kalau dibatalkan itu dalam rangka apa? Kenapa?," ujarnya.

Menurut Ruth, pembatalan wajar dilakukan apabila memang terdapat pelayanan purnajual yang tidak baik.

Dalam kasus ini, ia menilai wajar jika Lion Air membatalkan pesanan, terlebih menurutnya "Boeing tidak melakukan prosedur sosialisasi mengenai nose-dive kalau dia (pesawat) diterbangkan manual, gitu loh. Ini fatal sekali." katanya.

Sementara menurut pakar penerbangan Gerry Soejatman, kerugian finansial yang akan dialami Lion mungkin sebatas angusnya uang muka yang dibayarkan saat memesan slot produksi pesawat.

Menurut Gerry, maskapai yang memesan pesawat dalam jumlah besar sebenarnya membeli slot produksi pesawat tersebut.

Berdasarkan data yang BBC himpun, Lion dijadwalkan menerima 7 unit MAX-8 tahun depan, lalu 24 dan 35 unit lainnya menyusul di tahun 2020 dan 2021.

"Lion juga kayaknya tidak akan membatalkan semuanya. Jadi, yang udah mau, sedang diproduksi pun tidak dibatalin, rugi dia," ujar Gerry.

Boeing pun diyakininya akan membujuk Lion Air untuk mengurungkan niat pembatalan pesawatnya. Menurut Gerry, terlalu berisiko bagi Boeing jika membiarkan Lion Air melanjutkan rencana pembatalan, karena akan berdampak pada persepsi yang mungkin diterima maskapai lain tentang produk Boeing.

Menurut regulator Amerika Serikat, Boeing sendiri tengah memeriksa kemungkinan perbaikan perangkat lunak, setelah dikecam karena tidak menjabarkan perubahan terbaru pada sistem otomatisnya dalam buku manual 737 MAX.

"Saya rasa selama fixnya itu dilakukan oleh Boeing, itu kerugiannya akan mini buat Boeing," pungkasnya.

(Baca juga: Kecewa, Bos Lion Air Ancam Batalkan Pembelian Ratusan Pesawat Boeing)

(rhs)

1 / 1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini