nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jumlah IPO Melebihi Target tapi Kapitalisasinya Kecil

Rabu 12 Desember 2018 13:53 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 12 278 1990208 jumlah-ipo-melebihi-target-tapi-kapitalisasinya-kecil-e8ML9MPn3o.jpg Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Okezone)

 JAKARTA – Jelang tutup tahun 2018, antrian perusahaan yang go public masih banyak. Berdasarkan data dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI) ada 10 perusahaan yang bakal resmi mencatatkan sahamnya di pasar modal. Dimana dua di antaranya sudah listing perdana pada awal Senin (10/12) awal pekan kemarin yaitu PT Urban Jakarta Propertindo Tbk (URBN) dan PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS).

Kata I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, dalam pipeline ada 10 perusahaan yang bakal listing dan dua di antaranya sudah tercatat awal pekan kemarin,”Dalam pipeline kita ada 10 calon emiten listing di penghujung tahun ini,” ujarnya dilansir dari Harian Neraca, Rabu (12/12/2018).

Baca Juga: Tak Akan Terganggu Politik, BEI Optimistis 35 Perusahaan IPO pada 2019

Kemudian pada perdagangan Rabu (12/12) disusul PT Mega Perintis Tbk, PT Envy Technologies Indonesia yang target initial public offering (IPO) pada18 Desember 2018, PT Sentra Food Indonesia dengan target listing20 Desember 2018 dan PT Pollux Investasi Internasional yang target go public 21 Desember 2018. Kemudian ada PT Citra Putra Realty yang target IPO21 Desember 2018, PT Phapros yang target listing 21 Desember 2018 dan terakhir PT DMS Propertindo dengan target listing 28 Desember 2018.

Melesatnya jumlah perusahaan yang IPO di tahun 2018 ini, menurut pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy, prestasi ini tentu tidak terlepas dari upaya proaktif pemerintah dan BEI untuk mendorong korporasi mengakses pasar modal.Selain itu, berkembang pula tren di kalangan perusahaan untuk berlomba menjadi perusahaan terbuka guna meningkatkan Good Corporate Governance (GCG), citra perusahaan, kepercayaan diri pegawai, dan popularitas.

IHSG Menguat 0,57 Persen ke Posisi 6.152,86  

Namun, sebagian besar emiten baru tahun ini adalah emiten dengan kapitalisasi pasar yang kecil dengan nilai penggalangan dana kurang dari Rp500 miliar. “Oke lah jumlahnya banyak, tetapi dari sisi market cap harus lebih digenjot lagi. Korporasi yang big cap harus banyak juga yang listed agar bursa bisa menaikkan market cap secara signifikan,”ujarnya.

Budi pun menyayangkan proses penawaran umum pada korporasi BUMN yang sangat berbelit-belit sehingga semakin jarang BUMN yang melakukan IPO beberapa tahun terakhir. Masih banyak pula korporasi besar yang enggan menjadi perusahaan terbuka karena menilai kewajiban-kewajiban yang harus mereka lakukan sebagai perusahaan publik tidak sepadan dengan manfaat yang mereka dapatkan.

Baca Juga: IPO, Dewata Freightinternation Lepas 300 Juta Saham

Sementara senior analyst CSA Research Institute, Reza Priyambada menilai, tingginya aktivitas IPO tahun ini boleh jadi disebabkan perhitungan para emiten untuk mengantisipasi kebutuhan investasi pada tahun depan. Pada 2019, emiten kemungkinan akan kesulitan mencari dana murah di tengah potensi pengetatan ekonomi global dan tantangan tahun politik.

Selain itu, emiten juga mengamati pertumbuhan investor yang signifikan di pasar modal dalam negeri yang memungkinkan mereka untuk mendapatkan modal yang mereka butuhkan dengan lebih mudah. Di sisi lain, investor kini memiliki antusiasme yang besar terhadap saham-saham IPO, terbukti dari seringnya terjadi oversubscribe selama penawaran umum saham calon emiten. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat pertumbuhan harga saham-saham IPO di tengah tren konsolidasi yang terjadi di pasar modal dalam negeri.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini