Pendapatan Freeport Diprediksi Anjlok Jadi USD1 Miliar

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 09 Januari 2019 14:12 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 09 320 2002022 pendapatan-freeport-diprediksi-anjlok-jadi-usd1-miliar-PTDd7hhUpR.jpg Foto: Reuters

JAKARTA - PT Freeport Indonesia diperkirakan akan mengalami penurunan pendapatan sebelum pajak dan bunga (Ebitda) pada 2019. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariyono.

Menurutnya, pada 2019 ini pendapatan Ebitda PTFI berada di kisaran USD1 miliar. Angka tersebut sangat jauh dari pendapatan Ebitda PTFI pada tahun 2018 yang bisa mencapai USD4 miliar.

"Yang jelas turun dari tahun 2018. Kalau dari hitung-hitungannya dari USD4 miliar turun menjadi sekitar USD1 miliar ini Ebitda," ujarnya dalam acara paparan kinerja di Kantor Direktorat Jenderal Minerba, Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Baca Juga: Jokowi Bicara Fakta soal Caplok Freeport

Menurut Bambang Gatot, penurunan Ebitda PTFI disebabkan karena adanya penuntupan tambang terbuka yang akan dilakukan pada tahun ini. Di sisi lain, PTFI juga sedang melakukan pengeboran tambang tertutup sebagai pengganti tambang terbuka yang akan ditutup.

Seperti diketahui, PT Freeport Indonesia (PTFI) berencana untuk menutup penambangan di atas tanah alias open pit. Penutupan penambangan di atas tanah tersebut sudah dilakukan sejak akhir tahun lalu dan dilakukan secara bertahap hingga tahun 2019 ini.

"Jadi Ebitda turun karena tambang terbuka berhenti. Muali lagi tambang dalam. Jadi bukan masalah cadangan cuma maslah volume proses saja yang belum dimulai," ucapnya.

Pria yang kerap disapa Bambang itu menyatakan, masyarakat tidak perlu khawaitr dengan penurunan Ebitda tersebut. Sebab menurutnya, pendapatan Ebitda akan kembali meningkat pada tahun 2020 dan akan mencapai puncaknya pada tahun 2025 mendatang.

Baca Juga: Caplok Freeport, RI Bisa Kuasai Keuntungan Laba Bersih hingga Dividen

Sedangkan tahun 2025 hingga seterusnya, Ebitda PTFI akan kembali normal dan stabil. Oleh karenanya masyarakat tidak perlu khawatir dengan penurunan tersebut karena menurutnya, hal tersebut hanya bersifat sementara.

"Tahun 2020 dia naik lagi (Ebitda), optimalnya 2025. Kemudian stabil kesannya," tegasnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini