Dia mengakui, beberapa negara nontradisional yang ikut dalam perjanjian perdagangan itu memang belum berdampak besar terhadap kegiatan ekspor Indonesia. Meski demikian, menurutnya hal ini bisa menjadi pembuka perdagangan untuk lebih luas lagi. ”Misalnya, seperti Mozambik, Tunisia, dan Maroko PTA. Itu kan negara kecil, tapi jadi pintu masuk bagi negara-negara Afrika dan Eropa karena bisa menyeberang saja ke sana,” kata Enggar di Jakarta, kemarin.
Dia menjelaskan, pemerintah juga melirik pasar ekspor di kawasan Asia, yaitu Korea tahun ini. Kemendag juga menargetkan kerja sama dagang dengan Korea dalam bentuk Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) rampung pada 2019.

Untuk menjaga stabilisasi ekonomi Indonesia di masa depan, Mendag mengingatkan beberapa hal perlu diantisipasi, baik di lingkup global maupun domestik. Pada lingkup global, hal-hal perlu diantisipasi, yaitu perekonomian global yang tumbuh melambat 3,7%, volume perdagangan dunia yang tumbuh 4%, serta harga beberapa komoditas nonmigas, seperti minyak sawit, karet, kopi, kakao, teh, udang, kayu gergajian, dan barang tambang (aluminium, tembaga, nikel, dan timah), yang diprediksi menguat 0,3–3,9%.
Sementara tantangan domestik berupa daya saing nasional yang masih perlu ditingkatkan, stabilisasi nilai tukar rupiah, dan risiko politik dari terselenggaranya pemilu serentak 2019. ”Pemerintah optimistis dan realistis menghadapi tantangan ekonomi global dan domestik. Dengan mempertimbangkan berbagai tantangan tersebut, target pertumbuhan nilai ekspor nonmigas 2019 ditetapkan moderat 7,5%,” ungkap Enggar.