nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Saran YLKI: Maskapai Naikkan Tiket Pesawat Harusnya Bertahap

Mulyani, Jurnalis · Minggu 13 Januari 2019 20:07 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 13 320 2003882 saran-ylki-maskapai-naikkan-tiket-pesawat-harusnya-bertahap-JBMtZjozLS.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai besaran tarif penerbangan domestik memang terlalu tinggi harganya. Tentu hal ini membuat masyarakat kaget dan mengeluh.

Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengatakan, jika memang ingin ada kenaikan harga, sebaiknya maskapai melakukan sosialisasi lebih dulu. Tarif yang diputuskan untuk naik tetap dalam koridor Tarif Batas Atas (TBA) yang ditetapkan pemerintah.

Baca Juga: Harga Tiket Pesawat Turun, Bagaimana Pelayanan Maskapai?

“Apabila menaikkan tarif, idealnya maskapai menaikkan tarif secara bertahap, jangan terlalu signifikan besarannya. Sehingga masyarakat tidak kaget seperti saat ini,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jakarta, Minggu (13/1/2019).

Selain itu, Pemerintah harus memberikan berbagai insentif pada industri penerbangan nasional. Hal ini dilakukan agar tarif tetap terjangkau sehingga tidak mengganggu mobilitas dan perekonomian nasional, khususnya sektor pariwisata.

“Menurut YLKI, sungguh ironis apabila warga Indonesia lebih memilih berwisata ke luar negeri karena tarif pesawatnya lebih murah,” tuturnya.

Baca Juga: Diturunkan, Ini Kisaran Harga Tiket Pesawat Sekarang

Sebagai informasi, seluruh maskapai nasional yang tergabung dalam Indonesia National Air Carrier Association (INACA) memutuskan menurunkan tarif tiket penerbangan sejak 11 Januari 2019. Alasannya karena banyaknya keluhan dari masyarakat hingga komitmen dari mitra maskapai.

"Di tengah kesulitan para maskapai kami tetap paham dan mengerti akan kebutuhan masyarakat dan kami memastikan komitmen memperkuat akses masyarakat terhadap layanan penerbangan nasional serta keberlangsungan industri penerbangan nasional tetap terjaga,” ujar Ketua Umum INACA Ari Askhara, dalam keterangan tertulisnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini