nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Era Pemerintahan Jokowi, Industri Pengolahan Nonmigas Tumbuh 4,7%

Jamilah, Jurnalis · Kamis 31 Januari 2019 14:47 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 31 320 2011924 era-pemerintahan-jokowi-industri-pengolahan-nonmigas-tumbuh-4-7-UrFhu7wtUC.jpg Seminar Outlook Industri 2019 (Foto: Jamila/Okezone)

JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat rata-rata pertumbuhan industri pengolahan nonmigas mencapai 4,87% pada periode 2016-2018. Sedangkan subsektor dengan pertumbuhan industri tertinggi adalah makanan dan minuman sebesar 8,71%.

“Industri barang logam, elektronik, mesin dan perlengkapan tumbuh 4,02%, alat angkut 3,67%, tekstil dan pakaian jadi 1,64%," ujar Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri Imam Haryono, di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis (31/1/2019).

Baca Juga: Menperin: Perang Dagang Buka Peluang Industri di Indonesia

Imam menambahkan, pada periode tersebut setiap tahun kontribusi nilai tambah industri pengolahan non migas terhadap PDB sebesar Rp2.555,8 triliun pada 2018. Sektor industri pengolahan non migas memberikan kontribusi sebesar 19,8% atau yang tertinggi dari sektor ekonomi lainnya.

Dia melanjutkan, sektor industri juga memberikan kontribusi terbesar terhadap total penerimaan pajak, di mana pada 2018 sebesar 30% atau Rp363,6 triliun meningkat 11,12% dari tahun 2017.

"Demikian untuk cukai berkontribusi Rp151,71 triliun di mana 95% kontribusi dari industri tembakau," lanjutnya.

Baca Juga: Hadapi Industri 4.0, Menpan RB: Milenial Harus Kuasai Kecanggihan Teknologi

Tidak hanya itu, tahun 2004-2017, pemerintah telah mendorong tumbuhnya industri baru dengan hasil penambahan sebanyak 6.000 unit pada usaha industri besar dan sedang dan 10.000 jumlah total yang mendapat izin 2005-2018 pada industri kecil.

"Demikian juga tahun lalu daya saing industri nasional terus meningkat di mana nilai tambah industri sebesar USD236,69 miliar sehingga adanya peningkatan ini meningkatkan pringkat indeks daya saing global dan peringkat MVA index serta pangsa pasar industri nasional terhadap manufaktur global," tuturnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini