nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Laju IHSG Dibayangi Data Ekonomi hingga Perang Dagang

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 04 Februari 2019 10:42 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 04 278 2013431 laju-ihsg-dibayangi-data-ekonomi-hingga-perang-dagang-5Ayj5kqPVl.jpg Ilustrasi: Pergerakan IHSG (Foto Shutterstock)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini akan menantikan sentimen dari data ekonomi domestik dan global. Potensi koreksi diperkirakan bisa terjadi sehingga investor harus mewaspadai data yang dikeluarkan.

Pada perdagangan akhir pekan lalu indeks ditutup menguat tipis 5,67 poin atau 0,09% ke level 6.538,64. Kapitalisasi pasar saham naik seiring kenaikan IHSG menjadi Rp7.431 triliun dari Rp7.416 triliun pada hari sebelumnya. Investor asing membukukan net buy senilai Rp683,51 miliar sehingga total net buy asing sejak awal tahun mencapai Rp14,51 triliun.

Analis Pasar Modal BNI Sekuritas Dessy Lapagu memprediksi pergerakan pasar pada pekan ini kemungkinan besar akan lebih dipengaruhi sentimen rilis data perekonomian domestik dan global. Investor disarankan memperhatikan data pertumbuhan GDP Indonesia untuk periode kuartal akhir 2018.

 Baca Juga: IHSG Dibuka Naik Tipis ke 6.543

Ekspektasi pelaku pasar akan berada di level sama atau lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya pada kuartal tiga sebesar 5,17%.

“Pergerakan indeks pada minggu ini di perkirakan akan bergerak di rentang 6.450-6.603. Saham pilihan pada minggu ini kami jagokan sektor perbankan dan konsumsi,” ujar Dessy di Jakarta.

Selain itu, dia juga mengajak investor memperhatikan data dari Indeks Keyakinan Konsumen Indonesia untuk bulan Januari tahun ini. Proyeksinya akan lebih rendah dibanding periode sebelumnya pada Desember 2018 sebesar 127.

“Sejauh ini kami lihat investor akan lebih berhati-hati dalam mengambil posisi dan lebih melihat ke saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar besar. Sebabnya, masih tinggi fluktuasi di pasar,” ujarnya.

Sementara itu, Associate Director Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai, pekan ini IHSG berpotensi masih dalam area penguatan. Meski demikian, ada potensi koreksi di sana akibat kenaikan IHSG yang terlalu cepat.

“Sentimen kenaikan yang terlalu cepat ini harus dicermati sumbernya. Apakah karena banyak sentimen positif atau ada faktor lain seperti mendekatnya pemilu. Tentu hal ini harus diwaspadai,” ujar Maximilianus.

 Baca Juga: IHSG Melesat ke 6.538, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp7.431 Triliun

Pekan depan dia memprediksi masih belum banyak sentimen pasar yang hadir. Selain itu, juga kebetulan bertepatan dengan libur Imlek sehingga sejumlah pasar modal global juga akan tutup karena libur.

“Potensi pekan depan ada kenaikan, tapi mungkin tidak banyak. Tetap perhatikan data pasar karena akan ada koreksi jangka pendek. Pergerakan IHSG sekitar 6.509 hingga 6.575,” ujarnya.

Dia mengaku saat ini muncul sentimen positif di bursa global. Namun, dia mengingatkan yang harus diperhatikan adalah bagaimana tren selanjutnya. Ada beberapa agenda harus diperhatikan ke depan seperti kelanjutan pertemuan antara pemerintah Amerika Serikat (AS) dan China terkait perang dagang yang diagendakan pada awal Februari ini.

Sejauh ini pertemuan kedua negara menghasilkan angin positif, apalagi China sebagai komitmen awal akan membeli 5 juta ton kacang kedelai dari Amerika. “Tentu komitmen dari China ini ditujukan untuk mulai mengimbangi keinginan dari AS. Berita ini akan sangat ditunggu oleh para pelaku pasar dan investor,” ujarnya.

Sebelumnya, Research Analyst FXTM Lukman Otunuga melihat kurs rupiah sukses menguat signifikan ke level tertinggi sepanjang tujuh bulan terakhir karena dolar AS secara umum melemah setelah Federal Reserve (Fed) tidak mengubah suku bunga pada Januari.

Gubernur Federal Reserve Jerome Powell yang dovish memperkuat spekulasi pasar, yaitu Fed akan menghentikan sementara kenaikan suku bunga tahun ini dan menjadi langkah yang pada akhirnya akan memperlemah dolar AS.

Di Indonesia, perhatian investor akan tertuju pada indeks harga konsumen atau IHK terbaru Januari dan data kedatangan wisatawan pada Desember 2018. Rilis data ini dapat memberi isyarat mengenai keadaan ekonomi domestik. Rupiah juga bisa semakin menguat apabila data ekonomi melampaui ekspektasi. Dari aspek teknis, USD-IDR dapat menantang level Rp13.970 dalam jangka pendek apabila USD terus melemah.

Dia juga menilai, perubahan The Fed sangat mendukung tren positif di pasar ekuitas, namun masih banyak faktor lain perlu diselesaikan agar pasar yang optimistis bisa terus berlanjut. Isu seperti ekonomi global yang melemah, konflik dagang AS-China, Brexit, dan berbagai faktor geopolitik lainnya akan terus menguji selera risiko investor. (Hafid Fuad)

1
2

Berita Terkait

IHSG Februari 2019

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini