Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Miliarder Ini Hidup Hemat dan Jauh dari Budaya Konsumtif

Koran SINDO , Jurnalis-Jum'at, 08 Februari 2019 |12:31 WIB
Miliarder Ini Hidup Hemat dan Jauh dari Budaya Konsumtif
Foto: Arokiaswamy Velumani (Ist)
A
A
A

Dia mengaku selalu membawa piring ke sekolah untuk mengambil makanan yang dibagikan pemerintah pada siang hari. Dia juga menjadi satusatunya murid sekolah yang tidak menerima album perpisahan karena tidak mampu membayar.

Meski demikian, Velumani patut bersyukur karena banyak anak lain yang lebih menderita dari dirinya. “Saya tetap optimistis dan merasa tetap lebih kaya. Saya masih bisa makan 60 kali dalam sebulan ketika anak-anak seusia saya yang lain bahkan tidak makan sampai 30 kali sebulan. Mereka lebih miskin,” katanya.

Velumani mulai mendaki piramida kesuksesan pada 1978 saat memperoleh pekerjaan pertama sebagai ahli kimia di Gemini Cap sules, perusahaan pembuat tablet, dengan gaji 150 rupee India.

Lulusan Rama krishna Mission Vidyalaya tersebut berharap dapat bekerja di India South Viscose, perusahaan besar rayon yang kini bangkrut.

“Karyawan Viscose mendapatkan bonus sebesar 40% dari gaji mereka dan itu menarik saya untuk bekerja di sana. Namun, saya tidak masuk karena tidak memiliki pengalaman mumpuni. Banyak perusahaan lain yang juga menolak lamaran saya dengan alasan yang sama,” papar Velumani. “Cap sules pun tidak lama bertahan,” ucapnya.

Pada usia 23 tahun, Velumani mencari pekerjaan baru dan di terima di Pusat Penelitian Atom Bhaba (BARC) di Mumbai pada 1982. Bagi dirinya, gaji sebesar 880 rupee India merupakan sebuah kemewahan. Faktanya, dia dapat membantu mengangkat kesejahteraan keluarganya di kampung dan merayakan pesta pernikahan dengan Sumathi.

Saat bekerja di BARC, Velumani melanjutkan pendidikan S-2 melalui program kolaboratif antara BARC dan Universitas Mumbai dan mendapatkan gelar doktor di bidang biokimia tiroid. Pada 1995 atau hampir 15 tahun setelah bergabung dengan BARC, Velumani merasa terlalu nyaman dan menginginkan tantangan baru.

“Ketika saya resign, keluarga saya menangis. Namun, istri saya mendukung saya dan meninggalkan pekerjaannya untuk membantu bisnis saya,” terang Velumani. “Kami menghasilkan 10.000 rupee India per bulan dan mengelola keuangan sebaik mungkin. Kami bukan kikir, tapi tidak ingin diperbudak dengan perilaku konsumtif,” tandasnya. (Muh Shamil)

(Dani Jumadil Akhir)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement