Share

Kekayaan Intelektual Indonesia di Peringkat 45

Mulyani, Okezone · Senin 11 Februari 2019 16:51 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 11 320 2016423 kekayaan-intelektual-indonesia-di-peringkat-45-RYx14d1BeG.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA – Salah satu aspek hukum yang menarik untuk diperhatikan dalam perkembangan bisnis internasional adalah kekayaan intelektual.

Saat ini, Indonesia menempati peringkat ke-45 dalam laporan tahunan Indeks Kekayaan Intelektual (KI) International yang diluncurkan oleh Global Innovation Policy Center (GIPC). GIPC adalah sebuah lembaga bagian dari Kamar Dagang Amerika Serikat

Laporan tersebut bertajuk Inspiring Tomorrow, yang menganalisa iklim KI di 50 negara dan mengurutkannya berdasarkan 45 indikator unik dan penting bagi ekonomi berbasis inovasi dengan dukungan paten yang kuat, merek dagang, hak cipta, serta perlindungan rahasia dagang.

Baca Juga: Bukan "Monalisa", Ini Lukisan Termahal Leonardo da Vinci Seharga Rp6,07 Triliun

Meskipun menempati posisi 45, indeks KI di tahun 2019 ini menunjukkan bahwa Indonesia telah mengambil langkah-langkah positif untuk membawa kerangka kebijakan kekayaan inteletualnya menjadi lebih setara dengan negara-negara lain di Asia Tenggara.

“Seiring dengan meningkatnya populasi, keunggulan demografis, juga ekonomi yang dinamis, Indonesia terus bergerak maju. Indonesia dapat memanfaatkan kekuatan KI agar terlepas dari perangkap pendapatan menengah atau middle-income trap,” ungkap Direktur Eksekutif untuk wilayah Asia Tenggara Kamar Dagang Amerika Serikat John Goyer dalam keterangannya, Jakarta, Senin (11/2/2019).

Dia juga mengatakan, turut merasa senang melihat semakin menguatnya koordinasi pemerintah Indonesia untuk memperkuat penyelenggaraan KI. Bahkan, jika Indonesia ingin terus menarik investor asing, terus menciptakan lapangan kerja bernilai tinggi, serta menjadi ekonomi berbasis pengetahuan yang sesungguhnya, pemerintah harus terus berinvestasi untuk melakukan reformasi di bidang KI.

 Baca Juga: Dirjen Kekayaan Intelektual Coret Merek Cap Kaki Tiga

The US Chamber International IP Index membuat sebuah pedoman atau cetak biru untuk para pembuat kebijakan di berbagai negara seperti Indonesia, yaitu negara yang menginginkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan pekerjaan, serta mengembangkan inovasi dan kreativitas.

Berbagai temuan dalam indeks ini menunjukkan bahwa meskipun Undang-Undang No. 13 Tahun 2016 tentang Paten memiliki banyak ketentuan yang menyulitkan, namun regulasi tahun 2018 mengenai paten telah memberikan jawaban untuk transfer teknologi umum dan persyaratan lokalisasi.

Selanjutnya, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual juga menjalankan beberapa inisiatif untuk membantu UMKM dalam memanfaatkan aset-aset KI.

“Agar Indonesia dapat menarik banyak manfaat efektif dari sistem KI, pemerintah harus mengambil langkah-langkah penting untuk mengatasi berbagai ketentuan yang menyulitkan dari UU No. 13 Tahun 2016, termasuk pembatasan kriteria paten dan ketentuan impor paralel,” ungkap Direktur Eksekutif peraturan internasional di GIPC. Ellen Szymanski,

“Melalui KI yang lebih kuat, Indonesia bisa menjadi lebih kompetitif secara ekonomi dan global, serta menempatkan diri di jalur ekonomi berbasis pengetahuan yang sesungguhnya.” tambahnya.

Adapun beberapa area utama yang menjadi keunggulan KI di Indonesia, sebagai berikut:

1. Regulasi paten tahun 2018 memberikan bantuan dari transfer teknologi umum dan persyaratan lokalisasi berdasarkan Undang-Undang No. 13 tahun 2016 tentang Paten

2. Menjalin kerjasama dengan Jepang untuk memperkuat proteksi Kekayaan Intelektual melalui Patent Prosecution Highways (PPH)

3. Penyediaan bantuan administratif untuk pelaporan pelanggaran hak cipta yang terjadi pada lingkup daring

4. Koordinasi yang baik pada tingkat kabinet dan koordinasi kerangka kerja untuk pelaksanaan KI

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini