WASHINGTON - Bisnis Amerika Serikat (AS) harus membayar tambahan USD2,7 miliar (Rp38 triliun) untuk tarif pada November tahun lalu. Data itu dirilis kelompok bisnis AS yang menentang penerapan tarif dagang oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Kelompok itu menyebut namanya “Tariffs Hurt the Heart land” dan termasuk koalisi Rakyat AS untuk Perdagangan Bebas dan Petani untuk Perdagangan Bebas. Mereka menyusun data pembayaran tarif secara nasional dan negara bagian.
Data itu bagian dari seri bulanan disebut Pelacak Tarif yang dirilis kelompok itu bersama The Trade Partnership, firma konsultan ekonomi dan perdagangan internasional yang berbasis di Washington. Data impor bulanan itu dikalkulasi menggunakan data dari Biro Sensus AS dan data ekspor bulanan yang disusun dari Biro Sensus dan Departemen Pertanian AS.
Baca Juga: Amerika dan China Berupaya Selesaikan Perang Dagang
Jumlah pada November itu merupakan data terbaru pemerintah yang bisa diperoleh karena terjadi penutupan pemerintahan AS baru-baru ini. Juru bicara kelompok bisnis itu, mantan anggota Kongres dari Partai Republik Charles Boustany menjelaskan, data itu menunjukkan perusahaan AS dan bukan pesaing asing yang mengalami kerugian terbesar akibat perang dagang.
“Bisnis AS terpukul oleh dua kali kenaikan pajak dalam bentuk tarif dan penurunan ekspor karena para petani dan manufaktur kehilangan peluang di pasar luar negeri yang menjadi tujuan mereka,” kata Boustany dilansir Reuters.
Kelompok itu juga menjelaskan, tarif balasan telah memengaruhi ekspor AS. Pada November, ekspor produk-produk AS yang menjadi target tarif balasan mengalami penurunan hingga USD4,1 miliar atau 37% dari tahun sebelumnya.

Wakil presiden perdagangan internasional di Asosiasi Pemimpin Industri Retail Hun Quach menyatakan, kenaikan tarif pada ribuan produk konsumen akan menyebabkan gangguan besar pada para retailer yang mengalami kondisi tak pasti.
Tarif AS untuk produk impor senilai USD200 miliar dari China dijadwalkan naik menjadi 25% dari 10% jika kedua pihak gagal mencapai kesepakatan pada batas waktu 1 Maret. Pada Rabu (13/2), Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin menjelaskan kepada para jurnalis di Beijing bahwa perundingan antara kedua pihak berjalan baik.
Perundingan antara AS dan China kali ini memasuki level lebih tinggi dengan pertemuan tingkat menteri. Mnuchin dijadwalkan mengikuti perundingan sepanjang hari ini, setelah tiga hari pertemuan level deputi untuk membahas rincian teknis termasuk mekanisme menerapkan kesepakatan dagang yang tercapai.