Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Presiden Donald Trump Akan Cabut Perlakuan Dagang Istimewa India

Koran SINDO , Jurnalis-Rabu, 06 Maret 2019 |11:12 WIB
Presiden Donald Trump Akan Cabut Perlakuan Dagang Istimewa India
Foto: Reuters
A
A
A

Direktur Jenderal Federasi Organisasi Ekspor India Ajay Sahai menjelaskan, produk produk dalam bidang pertanian, maritim, dan kerajinan tangan menjadi ekspor India paling terpukul oleh rencana AS tersebut. Meski demikian, berita itu tak banyak mempengaruhi bursa saham India.

Pekan lalu, India menunda kenaikan tarif untuk beberapa produk impor dari AS hingga 1 April sebagai respons penolakan AS untuk mengecualikan India dari tarif baru untuk baja dan aluminium. Walau berdam - pak terbatas, pencabutan India dari GSP akan merugikan partai berkuasa nasionalis Hindu yang dipimpin Modi menjelang pemilu.

“Ini dapat menjadi isu politik dalam pemilu tahun ini,” ujar pejabat India. Hubungan Modi dengan Trump juga terbatas karena pertemuan keduanya lebih jarang dibandingkan antara Presiden China Xi Jinping dengan Trump.

Hubungan dagang dengan AS memburuk setelah India mengadopsi aturan baru da lam ecommerce yang membatasi raksasa ritel internet, seperti Amazon.com Inc dan Flipkart yang didukung Walmart dalam berbisnis. Kebijakan India itu setelah pemerintah memaksa perusahaan-perusahaan kartu pembayaran global, seperti Master card Inc dan Visa Inc, untuk memindahkan data ke India dan menaikkan tarif untuk produk-produk elektronik dan smart phone.

Pada 2017, AS memprotes ke putusan India membatasi harga peralatan medis. “India menerapkan sejumlah penghalang perdagangan yang menciptakan dampak negatif sangat serius pada perdagangan AS,” kata USTR yang memperkirakan AS mengalami defisit perdagangan barang dan jasa USD 27,3 miliar dengan India pada 2017.

“Meski komunikasi intensif, India gagal mengambil langkah-langkah penting untuk memenuhi kriteria GSP,” ungkap pernyataan USTR.

Menurut kelompok bisnis Konfederasi Industri India, ekspor terbesar India ke AS yang masuk dalam GSP pada 2017 adalah suku cadang kendaraan bermotor, ferro alloy, perhiasan logam mulia, batu bangunan, kabel dan kawat isolasi.

“Beberapa industri dengan orientasi ekspor yang tinggi ke pasar AS akan terkena dampak, seperti farmasi atau tekstil,” kata Siddharth Sedani, kepala penasihat saham di broker Anand Rathi.

(Feby Novalius)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement