nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nasib Nilai Tukar Rupiah di Tahun Politik

Kamis 28 Maret 2019 11:23 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 28 278 2036018 nasib-nilai-tukar-rupiah-di-tahun-politik-gvCgqqzUPW.jpg Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah yang sempat melemah selama 2018 diprediksi akan stabil di tahun politik. Kestabilan ini didasarkan pada beberapa hal, di antaranya adalah sikap The Fed yang tidak akan menaikkan suku bunga acuannya pada tahun ini. Hal ini terkait dengan adanya pelambatan ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Putu Rusta Adijaya mengatakan, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat terapresiasi seiring posisi dovish The Fed yang menyatakan tidak akan menaikkan suku bunga acuan. Apresiasi nilai tukar Rupiah ini seiring dengan kepercayaan investor pada ekonomi Indonesia di tengah pelambatan ekonomi global.

Baca Juga: Rupiah Pagi Ini Bergerak 2 Arah ke Rp14.249/USD

“Posisi dovish The Fed perlu diwaspadai oleh otoritas moneter di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Posisi dovish menandakan The Fed juga concern terhadap pertumbuhan ekonomi dunia yang diproyeksi turun 0,2 percentage point di 2019 dan 0,1 percentage point di 2020,” ungkapnya dilansir dari Harian Neraca, Kamis (28/3/2019).

Bank Indonesia juga perlu memperkuat kerjasama dengan bank sentral negara tetangga, seperti Singapura, Thailand dan Malaysia untuk mekanisme Local Currency Swap (LCS). Penerapan kebijakan ini dapat memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah pelambatan ekonomi global dan perang dagang.

rupiah

Namun Putu juga menekankan perlunya kewaspadaan pemerintah terhadap berbagai kemungkinan yang ada. Pemerintah, lanjutnya, perlu tetap mewaspadai dampak perang dagang antara Amerika Serikat dengan China. Perang dagang harus diantisipasi supaya tidak berkembang menjadi currency war atau perang nilai tukar. Kalau China mendevaluasi mata uangnya lagi, maka nilai tukar Renminbi akan semakin melemah.

“Kalau sampai hal ini terjadi, maka ekspor mereka akan semakin murah sehingga barang-barang mereka akan tersebar ke seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia. Hal ini akan mengurangi competitiveness of goods. Asumsi ceteris paribus, Indonesia akan mengimpor barang dari China, terjadi trade deficit, dan mempengaruhi nilai tukar Rupiah,” jelas Putu.

Pemerintah juga perlu mewaspadai kondisi Current Account Deficit (CAD) karena salah satu komponen dari CAD ini adalah trade balance. Jika terjadi currency war, maka jumlahCAD akan semakin besar dan investor akan bersikap spekulatif yang akhirnya mempengaruhi nilai tukar secara mendalam.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini