nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Target Pemanfaatan 23%, Energi Terbarukan Dikejar Bertahap

Koran SINDO, Jurnalis · Jum'at 29 Maret 2019 10:18 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 29 320 2036516 target-pemanfaatan-23-energi-terbarukan-dikejar-bertahap-iLmB5YJZjA.jpg Wamen ESDM Arcandra Tahar (Foto: Ant)

JAKARTA – Pemerintah berkomitmen terus mendorong sumber energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Komitmen tersebut tertuang dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang menyatakan pada 2025 mendatang bauran energi nasional pemanfaatan sumber energi berbasis energi baru terbarukan mencapai 23%.

Menurut Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar, proses pengalihan pemanfaatan sumber energi berbasis fosil ke energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia memerlukan waktu, seperti di negara-negara Eropa dan China. Pada waktunya, sumber-sumber energi berbasis fosil akan tergantikan oleh sumber energi terbarukan.

”Produksi batu bara nasional kita sekitar 480 juta ton, 20- 25% di antara untuk kebutuhan domestik yang sebagian besar digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Lebih dari 50% pembangkit kita saat ini masih menggunakan batu bara, tahun 2025 nanti Insya Allah, 23% sumber energi kita berasal dari energi terbarukan, sisanya gas dan BBM,” ujar Arcandra di Jakarta, kemarin.

Baca Juga: Target Bauran Energi Terbarukan 23%, Menteri Jonan: Ini Tantangan

Memanfaatkan sumber energi terbarukan sudah merupakan sebuah keharusan, bukan lagi sebuah pilihan. ”Kita tidak mempunyai kebebasan untuk memilih. We don’t have any freedom untuk mengatakan kita mempunyai sumber energi lain. Ini bukan nice to have lagi, tapi need to have. Renewable energy itu need to have karena resources itu makin lama makin habis,” kata Arcandra.

Arcandra menjelaskan, mengapa saat ini pemerintah masih menggunakan batu bara sebagai sumber energi. Pengalihan sumber energi dari batu bara menjadi EBT akan dilakukan bertahap seperti di negara-negara Eropa dan China, mereka mengalihkan sumber energinya setelah ekonomi mereka berjalan.

”Negara Eropa maju memulai revolusi industrinya dengan menggunakan batu bara sebagai sumber bahan bakarnya, setelah ekonominya jalan, itulah jalan menurun, sedikit demi sedikit mereka mulai meninggalkan batu bara,” ungkap Arcandra.

arcandra

Saat ini Indonesia masih memerlukan batu bara sebagai sumber energi yang murah. Selain agar harga listriknya terjangkau masyarakat, juga untuk menggerakkan perekonomian sehingga produk-produk yang dihasilkan dapat berkompetisi di pasar dunia.

Namun, tahap berikutnya energi terbarukan akan didorong sehingga tahun 2025 porsi 23% akan tercapai. ”Saat ini masa transisi,” katanya. Saat ini Indonesia masih membutuhkan sumber energi yang murah untuk menggerakkan ekonomi.

Namun, pada waktunya nanti akan diturunkan porsinya dan digantikan dengan sumber energi terbarukan. ”Kita masih memerlukan sumber energi murah agar produk- produk yang kita hasilkan dapat berkompetisi dengan produk dari negara lain. Kalau sumber energinya mahal, akan susah berkompetisi dengan negara lain untuk kebutuhan ekspor kita,” katanya. Terpisah, pengamat energi dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta (UGM) Fahmy Radhi mengatakan, terdapat beberapa kendala yang dihadapi dalam pengembangan energi ini di Tanah Air.

Pertama, adanya keterbatasan ketersediaan infrastruktur yang dibutuhkan bagi pengembangan energi terbarukan. Kedua, adanya regulasi pemerintah pusat dan daerah yang menghambat pengembangan energi terbarukan, termasuk perizinan bertingkat dan berjenjang. Ketiga , investasi teknologi EBT relatif mahal sehingga dibutuhkan modal investasi besar dengan waktu pengembalian investasi yang lama.

”Untuk mengakselerasi pengembangan energi terbarukan, pemerintah harus mengatasi kendala tersebut dengan melakukan upaya serius dan terus menerus,” kata dia. Upaya yang harus dilakukan pemerintah, yakni mengalokasikan dana APBN untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan dalam pengembangan energi terbarukan.

Ketersediaan infrastruktur yang memadai diharapkan bisa menjadi pendorong bagi investor melakukan investasi di sektor pembangkit listrik tenaga energi terbarukan. Pemerintah juga harus menghapus regulasi tumpang tindih yang menghambat pengembangan energi terbarukan. ”Perizinan investasi di sektor energi saat ini masih cenderung panjang dan berjenjang sehingga perlu disederhanakan,” ucapnya.

(Nanang Wijayanto)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini