Jumlah Penumpang Pesawat Turun 15,64%, BPS: Efek Mahalnya Tiket

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 01 April 2019 15:57 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 01 320 2037804 jumlah-penumpang-pesawat-turun-15-64-bps-efek-mahalnya-tiket-ntoP43Zb97.jpg Ilustrasi: Foto Okezone

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan jumlah penumpang pesawat pada periode Februari 2019. Penurunannya pun cukup tinggi yakni sekitar 15,64%.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pada Februari 2019 lalu jumlah penumpang pesawat sekitar 5,63 juta. Sedangkan angka penumpang Januari berada di kisaran 6,6 juta.

"Angkutan udara turun jumlah penumpangnya, Februari 5,63 juta. Turun jauh dibandingkan Januari 6,6 juta orang," ujarnya saat ditemui di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (1/4/2019).

 Baca Juga: Penurunan Harga Tiket Pesawat Garuda dan Lion Air Harus Konsisten

Pria yang kerap disapa Kecuk itu menjelaskan, ada beberapa hal yang menyebabkan penumpang pesawat turun. Salah satunya adalah karena mahalnya harga tiket pesawat.

"Memang persoalan harga tiket yang menjadi keluhan, itu terlihat di berbagai airport," kata Kecuk.

Mahalnya tiket pesawat ini sendiri bahkan ikut andil dalam inflasi Maret 2019. Tarif angkutan udara sendiri memberikan andil inflasi sebesar 0,04% dari inflasi keseluruhan Maret 2019 yakni 0,11%.

"Transportasi 0,10%. Dan sumbangannya 0,02%. Komoditas memberikan andil kepada inflasi adalah tarif angkutan udara 0,03%," katanya.

 Baca Juga: Batas Bawah Tarif Dinaikkan, Lion Air Malah Turunkan Harga Tiket

Akan tetapi lanjut Kecuk, kenaikan angka inflasi pada transportasi udara ini sangat tidak wajar. Mengingat jika pengalaman tahun-tahun sebelumnya, angka inflasi dari transportasi udara seharusnya mengalami penurunan.

Biasanya pengaruh kenaikan tiket udara pada inflasi sendiri terjadi pada masa-masa libur panjang dan sekolah. Seperti pada saat natal dan tahun baru, lebaran dan puasa. Sedangkan pada Maret ini tidak terlalu banyak libur.

"Biasanya angkutan udara ini adanya di Januari, tapi ternyata masih ada juga di Februari, kemudian sampai Maret juga masih terasa 0,03%," ucapnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini