nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BI Buka Peluang Turunkan Suku Bunga Acuan

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 02 April 2019 20:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 02 20 2038405 bi-buka-peluang-turunkan-suku-bunga-acuan-1RKiID1aiK.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memberikan isyarat untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate. Tentunya dengan penyesuaian mengenai kondisi perekonomian terkini.

Seperti diketahui, sejak terakhir kali menaikan suku bunga acuan pada akhir 2018 lalu, BI terus menahan suku bunga acuannya. Saat ini BI 7 Days Repo berada di level 6%.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, BI Rate bisa saja diturunkan asalkan defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) Indonesia stabil bahkan menurun. Pada tahun ini sendiri BI menargetkan CAD bisa mendekat 2,5%.

"Intinya CAD itu kan angka kuartalan kan biasanya kuartal I rendah, kuartal II naik, seasonality-nya gitu. Kalau CAD kuartal I terkendali, kita lihat kuartal II bagaimana," ujarnya saat ditemui di kawasan SCBD, Jakarta, Selasa (2/4/2019).

 Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga Acuan, Menko Darmin: Jangan Terlalu Dipusingkan

Di sisi lain, pihaknya juga harus melihat kondisi perekonomian global. Khususnya kebijakan dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang memang menjadi acuan BI untuk menaikan turunkan suku bunga.

The Fed sendiri pada tahun ini diperkirakan hanya akan menaikan suku bunganya sebanyak satu kali. Bahkan beberapa ekonom dunia justru memperkirakan jika The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya tahun ini.

"The Fed kan juga gitu. lihat situasinya," ucapnya.

 Baca Juga: Alasan BI Tahan Suku Bunga Acuan di Level 6%

Mirza menyebutkan, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah faktor global. Sebab jika faktor internal, dirinya optimis CAD di kuartal II menurun.

Salah satu penyebabnya adalah masuknya arus modal asing ke Indonesia. Dia yakin arus modal asing tahun ini bisa masuk sekitar USD20-USD26 miliar setelah pemilihan umum berlangsung.

"Nantinya kalau pun turun kita pastikan tidak banyak. Kedua, kita harus pastikan bahwa pertumbuhan impor bisa dikendalikan," ujarnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini