Strategi dalam Berinvestasi Syariah di Pasar Modal

Sabtu 06 April 2019 16:43 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 06 278 2039927 strategi-dalam-berinvestasi-syariah-di-pasar-modal-5j1XkKkKjp.jpg Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Transaksi di pasar modal kini semakin memenuhi prinsip syariah. Terutama setelah PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), sebagai Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (LPP) di Pasar Modal Indonesia mendapat fatwa penerapan prinsip syariah dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) terkait proses bisnis atas layanan jasa KSEI.

Fatwa tersebut diberi nomor 124/DSN-MUI/XI/2018 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Pelaksanaan Layanan Jasa Penyimpanan dan Penyelesaian Transaksi Efek serta Pengelolaan Infrastruktur Investasi Terpadu, sesuai dengan hasil Rapat Pleno DSN-MUI pada 8 November 2018. Dengan adanya fatwa ini, maka semakin lengkap dasar-dasar proses yang sesuai dengan prinsip syariah dan menjadi acuan serta pegangan dalam berinvestasi di pasar modal.

Di Pasar Modal Indonesia, saat ini sudah terdapat lebih dari 50% saham yang masuk ke dalam Daftar Efek Syariah (DES). Fatwa ini diharapkan dapat semakin memantapkan investasi syariah dalam beragam produk di Pasar Modal Indonesia. Terlebih, proses transaksi bursa hingga proses penyelesaian dan penyimpanan di KSEI sudah sesuai dengan prinsip syariah. “Proses pencatatan Reksa Dana pada infrastruktur KSEI yakni sistem pengelolaan investasi terpadu (S-INVEST) di KSEI pun telah memenuhi prinsip syariah,” ujar Direktur Utama KSEI, Friderica Widyasari Dewi.

Baca Juga: Kini Proses Pembukaan Rekening Efek dan RDN Lebih Cepat dan Mudah

Fatwa nomor 124/DSN-MUI/XI/2018 kali ini sendiri melengkapi tiga fatwa syariah terkait investasi di pasar modal yang telah diterbitkan sebelumnya. Salah satunya adalah Fatwa nomor 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi untuk Reksadana syariah. Lalu ada Fatwa nomor 40/DSN-MUI/X/2013 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal.

Fatwa lainnya yakni nomor 80/DSN-MUI/III/2011 tentang Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek bersifat Ekuitas di Pasar Regular Bursa Efek yang diberikan ke penerbitan indeks saham syariah di pasar modal (Indeks Saham Syariah Indonesia, Jakarta Islamic Index, dan Jakarta Islamic Index 70).

Butuh beberapa tahapan untuk melahirkan fatwa 124/DSN-MUI/XI/2018 tentang kesesuaian syariah dari operasional KSEI. Sekretaris DSN MUI Anwar Abbas menyampaikan prosesnya berawal pada 5 Januari 2018 saat KSEI mengajukan permohonan. Kemudian DSN MUI membentuk tim yang melakukan penilaian terhadap operasional KSEI selama ini.

ihsg

DSN juga melakukan sejumlah diskusi dan kajian bersama dengan tim dari KSEI dan pelaku industri lain seperti Perusahaan Sekuritas dan Manager Investasi. Sejumlah penyesuaian dari hasil kajian dilakukan hingga pada Juli 2018 terbit naskah akademik layanan jasa KSEI yang sesuai dengan prinsip syariah.

Tim DSN-MUI kembali melakukan uji yang berdasar pada pembelajaran baik dari kitab klasik mau pun kontemporer. Hingga akhirnya pada 8 November 2018, fatwa terkait penerapan prinsip syariah dalam pelaksanaan layanan jasa penyimpanan dan penyelesaian transaksi Efek serta pengelolaan infrastruktur investasi terpadu disahkan dalam rapat pleno DSN-MUI.

Anwar menyampaikan, fatwa ini menambah panjang daftar fatwa DSN terkait keuangan syariah menjadi 125 fatwa per 2018. Ia berharap dengan lahirnya fatwa-fatwa tersebut dapat menjadi sumbangsih bagi peningkatan ekonomi syariah secara umum.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hoesen menyampaikan hingga saat ini ada 20 fatwa DSN MUI terkait pasar modal syariah. Menurutnya, ini signifikan mendorong perkembangan pasar modal syariah di Indonesia yang telah menunjukkan tren positif.

Saat ini beberapa Perusahaan Efek sudah memiliki aplikasi berupa online trading syariah. Adapun jumlah investor saham syariah di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai 44.543 investor. Jumlah ini naik hingga 92% dari posisi akhir tahun 2017 yang masih sebanyak 23.207 investor.

Tahun ini, BEI cukup optimistis bisa menambah lagi jumlah investor saham syariah hingga naik 100%. Sebelumnya, market share investor syariah sebesar 5% dari total investor ditargetkan bisa dicapai pada 2020. Namun tahun lalu dengan pertumbuhan pesat, market share atau pangsa pasar investor syariah sudah tembus 5,2% dari total investor.

Berdasarkan data dari total investor tersebut jumlah investor saham syariah yang aktif di Indonesia mencapai 56% atau tetap lebih baik ketimbang jumlah investor aktif saham konvensional yang berkisar 18% sampai 19%.

ihsg

Dalam kesempatan yang sama, Budi Hikmat, Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management memberikan materi tentang menyusun strategi dalam berinvestasi syariah. Inspirasinya dalam berinvestasi adalah membaca ayat yang memerintahkan menanam modal. Ayat yang berkaitan dengan perintah investasi itu berbunyi "Hendaklah kalian bercocok tanam 7 tahun secara berkelanjutan," sebagai saran Nabi Yusuf.

Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Yusuf ayat 47-48, Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan (47). Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan (48). Dari ayat tersebut, Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengatakan tiga hal: (1) Menanam berturut-turut. (2). Pengawetan hasil tanaman (bahan-pangan), 3. Penghematan (dimakan sedikit-sedikit).

Investasi itu adalah tindakan antisipatif. Itulah sebabnya market selalu antisipatif. "Saat ekonomi lagi enggak bagus, kok bursa naik. Atau sebaliknya bursa kok turun padahal bisnis baik-baik saja,” kata Budi. Dia menambahkan, investor itu mengantisipasi turn round story dan risk, sehingga selalu bergerak lebih dulu dan lebih volatilitas. "Bagi saya prinsip berinvestasi yang penting itu kedepankan tindakan mengatasi kerakusan, dari pada mengatasi kecemasan," ujarnya.

(TIM BEI)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini