nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tidak Ada Anak Usaha BUMN IPO di Semester I Tahun Ini

Selasa 16 April 2019 12:05 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 16 278 2044111 tidak-ada-anak-usaha-bumn-ipo-di-semester-i-tahun-ini-MtgYr5AQn4.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA – Sejak pembukaan perdagangan di tahun 2019, baru tiga perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kondisi ini masih jauh dari target yang ditetapkan BEI sebanyak 75 emiten baru.

Hal ini pula yang disampaikan Kementerian Badan Usaha Milik Negera (BUMN) bahwa jika pada paruh pertama tahun ini tidak akan ada anak perusahaan BUMN yang akan melaksanakan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).

Namun demikian untuk mendukung target BEI, Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro mengungkapkan, jika pihaknya akan memberi izin IPO apabila kondisi pasar telah kondusif.

”Tunggu pasar kondusif agar dapat price yang maksimal. Mungkin semester dua tahun ini,” ungkapnya, dikutip dari Harian Neraca, di Jakarta, Selasa (16/4/2019).

Baca Juga: Bliss Properti Siap Melepas 1,7 Miliar Saham ke Publik

Adapun, beberapa anak usaha BUMN yang memang sudah bersiap untuk IPO yakni, PT Wika Realty, PT Pelabuhan Tanjung Priok, PT Adhi Persada Gedung, PT Adhi Commuter Properti, PT Wika Industri dan Konstruksi, dan PT Rumah Sakit Pelni.

Sementara Menteri BUMN, Rini Soemarno mendorong, BUMN untuk mencari pendanaan di pasar modal untuk mendukung ekspansi bisnisnya.”Saya selalu menekankan BUMN harus terus berinovasi dalam mencari alternatif pendanaan proyek infrastruktur dengan tidak terpaku pada pendanaan konvensional yang bersifat utang," ungkap Rini.

Dia menambahkan, tantangan ke depan setelah infrastruktur adalah pendanaan di sektor-sektor lainnya seperti energi dan manufaktur, yang tentunya memerlukan pendanaan yang besar dan diharapkan BUMN bisa menawarkan produk inovatif yang ditawarkan kepada investor melalui bursa efek.

Untuk itu, Rini terus mendorong BUMN untuk berinovasi dalam mencari sumber pendanaan sehingga terus menjadi perusahaan yang kuat dan mampu bersaing baik di pasar lokal maupun global.

"Saya menyambut baik peluncuran produk investasi ini. Inovasi-inovasi seperti ini yang terus saya dorong ke BUMN untuk bisa mendapatkan alternatif pendanaan dan bisa terus melebarkan sayapnya. Apresiasi saya ke manajemen Jasa Marga serta terima kasih kepada semua pihak yang sudah mendukung. Saya berharap makin banyak BUMN yang mendapatkan pendanaan di Bursa," tegas Rini.

Baca Juga: IPO, Menteng Heritage Patok Harga Rp105 per Saham

Desi Arryani, Direktur Utama Jasa Marga, mengungkapkan, Dinfra Toll Road Mandiri-001 merupakan produk pendanaan untuk menjaga kondisi keuangan perusahaan agar tetap solid dan menjadi alternatif pendanaan baru di luar pendanaan yang tersedia saat ini, untuk dapat memperluas basis investor yang berpartisipasi dalam pembiayaan infarstruktur serta memperkuat struktur permodalan Jasa Marga di tengah masifnya pembangunan jalan tol yang sedang dilakukan Jasa Marga.

Sejak 2017, Jasa Marga telah menerbitkan produk-produk pendanaan baru di pasar modal, mulai dari sekuritisasi, project bond, komodo bond, dan reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) berbasis ekuitas. Berdasarkan POJK Nomor 52/POJK.04/2017, Dinfra adalah wadah berbentuk kontrak investasi kolektif untuk menghimpun dana dari pemodal untuk selanjutnya sebagian besar diinvestasikan pada aset infrastruktur dalam bentuk utang dan/atau ekuitas oleh manajer investasi dan dapat ditawarkan melalui penawaran umum maupun penawaran tebatas.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini