JAKARTA - Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi meminta pemerintah memastikan pasokan bahan pangan selama Ramadan 1440 H, termasuk mengantisipasi lonjakan permintaan bahan pangan. Apalagi, umumnya, bakal terjadi lonjakan harga di momen tersebut.
"Lazimnya, selama Ramadan dan saat Idul Fitri, akan terjadi lonjakan permintaan bahan pangan sekitar 20% hingga 30%, baik bahan pangan segar atau olahan," kata Tulus dikutip dari Harian Neraca, Senin (29/4/2019).
Karena itu, Tulus mengatakan meminta Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) memastikan pasokan bahan pangan cukup sampai Idul Fitri.
Baca Juga: Dipantau Kemendag, Harga Daging Sapi Rp120.000/Kg
Menurut Tulus, pemerintah harus mampu menjaga kelancaran arus distribusi barang, sehingga tidak terjadi lonjakan harga yang tidak wajar karena gangguan distribusi. "Kementerian Perdagangan harus mampu mengendalikan pelaku pasar besar, agar tidak menjadikan momen bulan puasa untuk mengeksploitasi konsumen dengan kenaikan harga yang ugal-ugalan," tuturnya.
Tulus mengatakan pengendalian pasar secara ketat, termasuk menjaga kelancaran arus distribusi barang, berkontribusi baik terhadap harga bahan pangan. Bila pemerintah berniat melakukan operasi pasar untuk mengendalikan harga, Tulus meminta sasarannya harus jelas dan terukur.
"Ukurannya bukan seberapa banyak komoditas yang dilepas ke pasar, tetapi seberapa banyak masyarakat rentan yang akan terdampak dari operasi pasar tersebut. Operasi pasar jangan hanya menjadi proyek saja," katanya.

Ketua Pengurus Harian YLKI mengimbau masyarakat agar menjaga konsumsi secara wajar dan tidak berlebih-lebihan selama Ramadhan 1440 H agar tidak terjadi distorsi pasar terhadap bahan pangan. "Perilaku konsumsi yang tidak wajar dan berlebihan bisa menyebabkan distorsi pasar seperti kelangkaan dan memicu kenaikan harga secara tidak wajar," kata Tulus.
YLKI juga mendorong Badan Pengawas Obat dan Makanan serta dinas kesehatan di daerah meningkatkan pengawasan pasar untuk memberikan jaminan bahwa yang beredar selama Ramadhan adalah bahan pangan yang aman.
Baca Juga: Ada Operasi Pasar, Harga Bawang Putih Masih Rp55.000/Kg
Menurut dia, bahan pangan yang aman bahan pangan yang tidak terkontaminasi bahan-bahan berbahaya, bukan barang kedaluwarsa, atau mendekati kedaluwarsa. "Kemungkinan perilaku nakal pelaku usaha yang melepas barang rusak atau kedaluwarsa ke pasar karena memanfaatkan momentum pelonjakan permintaan bahan pangan harus diwaspadai," ujarnya.
YLKI juga mendorong masyarakat melakukan pengawasan di pasar untuk mengantisipasi perilaku nakal dan pelanggaran oleh pelaku usaha. "Pelanggaran tersebut harus segera dilaporkan ke kanal-kanal pengaduan yang tersedia, seperti Kementerian Perdagangan, dinas perdagangan, balai pengawas obat dan makanan, dan lain-lain," katanya.
Tulus mengatakan biasanya selama Ramadhan dan saat Idul Fitri terjadi lonjakan permintaan bahan pangan sekitar 20% hingga 30%, baik bahan pangan segar atau olahan.