nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BI Diprediksi Masih Betah dengan Suku Bunga 6%

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 15 Mei 2019 10:36 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 15 20 2055876 bi-diprediksi-masih-betah-dengan-suku-bunga-6-P0Y1QWSYzA.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Sejalan dengan tren regional, ekspor dan impor cenderung tetap lemah. Neraca perdagangan mungkin kembali ke zona defisit bulan ini setelah mengalami surplus selama dua bulan berturut-turut.

”Pertumbuhan ekspor akan tetap lemah di Asia, seperti pada data perdagangan Singapura, India, dan Indonesia,” ujar Ekonom DBS Group Research Masyita Crystallin di Jakarta, kemarin.

Sementara itu, defisit transaksi berjalan kemungkinan melebar pada kuartal II/2019 dan seterusnya. Hal itu karena pembangunan infrastruktur akan mulai meningkat setelah pemilihan umum, selain kenaikan harga minyak dan peningkatan perang dagang AS-China yang akan berdampak negatif pada perdagangan Asia.

”Meskipun lingkungan inflasi rendah, Bank Indonesia kemungkinan masih menahan diri dan tidak menurunkan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan minggu ini,” kata Masyita.

 Baca Juga: Bankir Harap Suku Bunga Acuan BI di Bawah 5%

Kemungkinan tersebut didorong oleh pertumbuhan PDB yang masih tetap kuat jika dibandingkan dengan perlambatan di seluruh Asia. Sementara rupiah kemungkinan tetap di bawah tekanan karena ketegangan perdagangan AS-China meningkat dan defisit transaksi berjalan melebar.

SVP Chief Economist BNI Ryan Kiryanto juga menilai, keputusan RDG BI akan tetap mempertahankan BI 7 day repo rate, Deposit Facility, maupun Lending Facility. ”Hal tersebut dengan mempertimbangkan faktor tekanan eksternal dan domestik terkini serta ekspektasi ke depannya,” ungkap dia, kemarin.

Faktor eksternal itu, misalnya efek negatif trade war, Brexit, dan ketegangan atau risiko geopolitik yang semuanya berdampak negatif bagi perekonomian RI. Sedangkan dari internal terkait dengan defisit neraca transaksi berjalan sebesar 2,6% terhadap PDB serta lingkungan makroekonomi yang belum kembali kondusif pascapemilu.

”Selain itu, keputusan RDG BI juga dengan mempertimbangkan perkembangan nilai tukar rupiah yang masih dalam tekanan eksternal,” katanya.

 Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga Acuan di 6%, Bos BCA: Cocok Sekali

Direktur Group Surveilans dan Stabilitas Sistem Keuangan LPS Doddy Ariefianto memprediksi, kenaikan BI 7-day reverse repo rate tahun 2019 berpotensi berakhir seiring arah Fed Rate yang menjadi lebih dovish serta tekanan pada nilai tukar rupiah mulai mereda.

”Kendati demikian, arah kebijakan moneter diperkirakan masih tightening bias dan belum terindikasi melonggar dalam waktu dekat di tengah masih adanya risiko volatilitas di pasar keuangan dan risiko persistensi defisit neraca berjalan,” ungkap Dody.

Adapun suku bunga antarbank (JIBOR) diperkirakan juga akan stabil. Hal itu dipengaruhi dinamika kondisi likuiditas antarbank dalam penyaluran kredit serta recovery pertumbuhan di sisi simpanan.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini