Trilogi Maritim Bakal Pangkas Ongkos Logistik

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 16 Mei 2019 21:08 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 16 320 2056697 trilogi-maritim-bakal-pangkas-ongkos-logistik-GZ15s3DtxQ.jpeg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Implementasi Trilogi Maritim atau jaringan pelabuhan yang terintegrasi (integrated port network) diyakini akan menurunkan biaya logistik nasional. Konsep ini sejalan dengan  rencana pemerintah untuk menurunkan biaya logistik sebesar 4,9% dalam tiga tahun ke depan.

Ada beberapa tantangan untuk menurunkan biaya logistik nasional, yakni belum optimalnya jaringan pelayaran, belum adanya standarisasi pelabuhan, serta masih tingginya inefisiensi transportasi darat. Dengan Trilogi Maritim, hambatan-hambatan itu bisa ditekan. 

"Tahun 2018, biaya logistik nasional sebesar 23,% dari total produk domestik bruto. Kami yakin dengan Trilogi Maritim biaya logistik turun menjadi 18,7% pada tahun 2022," ujar Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC, Elvyn G. Masassya, saat acara buka puasa bersama wartawan di Jakarta, Kamis (16/5/2019).

Konsep Trilogi Maritim mencakup tiga pilar, yaitu standarisasi pelabuhan, aliansi pelayaran dan industri yang terakses baik dengan pelabuhan. Dalam hal standarisasi pelabuhan, perlu ada kualitas standar, baik fisik maupun teknologi yang digunakan. 

"Sejak 2016 kami melakukan standarisasi pelabuhan dengan menitikberatkan pengembangan fisik serta digitalisasi, sehingga layanan dan operasional lebih cepat dan mudah. IPC terus melakukan transformasi untuk menjadi trade facilitator," tutur dia.

Baca Juga: Cari Pendanaan, Pelabuhan Tanjung Priok Jajaki IPO

Elvyn menyinggung kesiapan Pelabuhan Tanjung Priok menjadi pelabuhan hub terbesar di Asia Tenggara. "IPC telah membuka layanan pelayaran langsung (direct call services) ke Amerika, Eropa, Australia dan Intra Asia. IPC terus mengembangkan layanan direct call dari Tanjung Priok, dan yang terbaru adalah melalui penguatan kerja sama dengan Pelabuhan Ningbo, Cina, akhir April lalu," jelasnya.

Dengan layanan direct call, ekspor atau impor tak perlu lagi mampir ke Singapura. "Tanpa transhipment di Singapura, biaya jasa kepelabuhanan dan jasa tambang (freight cost) terpangkas hingga 40%," ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Elvyn memaparkan capaian IPC selama kuartal I 2019 yang mencatatkan laba bersih sebesar Rp757,9 miliar. Angka ini naik 50,8% dibandingkan kuartal I 2018 yang sebesar Rp500 miliar. Pendapatan usaha juga naik 5,53% dari Rp2,6 triliun menjadi Rp2,74 triliun.

Meski demikian, lanjut Elvyn, EBITDA turun 0,9%, dari Rp1,09 triliun menjadi Rp1,08 triliun. Biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) juga mengalami sedikit kenaikan, dari 65,58% menjadi 67,48%. 

Sedangkan arus (throughput) petikemas kuartal I 2019 tercatat 1,83 juta TEUs. Angka ini sama dengan kuartal I 2018. Untuk arus non peti kemas, IPC mencatat kenaikan sebesar 5,53% dari 13,36 juta Ton menjadi 14,10 juta Ton.

Baca Juga: Saingi Singapura, Pelabuhan Tanjung Priok Layani Fungsi Transhipment

Sementara itu, terkait kesiapan arus mudik lebaran 2019, Elvyn memastikan bahwa semua pelabuhan yang dikelola IPC siap menyambut kedatangan dan keberangkatan para pemudik. Khusus di Pelabuhan Tanjung Priok, IPC memberikan fasilitas mudik gratis untuk 2000 pemudik tujuan Batam dan Surabaya dengan kapal laut. 

"Selain itu, kami memfasilitasi sekitar 22.000 pemudik tujuan Jawa dan Sumatera. IPC menyiapkan 406 bus berstandar pariwisata dengan tujuan beberapa kota utama di Jawa dan Sumatera. Mudik gratis bersama IPC Grup 2019 juga memberikan layanan angkutan balik bagi pemudik yang hendak kembali ke Jakarta setelah berlebaran," jelasnya.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini