nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perang Dagang, Amerika yang Paling Terluka

Feby Novalius, Jurnalis · Kamis 16 Mei 2019 21:16 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 16 320 2056699 perang-dagang-amerika-yang-paling-terluka-cIuPfAU3Gx.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai ekspor sulit menjadi andalan untuk mengurasi defisit neraca perdagangan di tengah ketidakpastian pasar keuangan global akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi China hingga perang dagang.

Gubernur BI Perry Warjiyo menerangkan, pertumbuhan ekonomi China diprediksi terbatas di 6,4%. Padahal, sejumlah langkah stimulus yang dilakukan pemerintah dan Bank Sentral China sudah dikeluarkan.

Misalnya, dengan memberi stimulus pajak berupa pemotongan pajak di sejumlah sektor khususnya permintaan domestik seperti konsumsi. Kemudian Bank Sentral mengeluarkan stimulus dari sisi moneter untuk menjaga perlambatan ekonomi China tidak lebih dalam.

"Secara keseluruhan diprakirakan ekonomi China juga belum kuat dalam arti stimulus fiskal pajak, infrastruktur maupun moneter belum mampu mendorong. Artinya dibanding negara lain dampak ekonomi global pada China relatif tidak sesignifikan dari yang lain," ujarnya di Kantor BI, Jakarta, Kamis (16/5/2019).

Baca Juga: AS-China Saling Balas Tarif Impor, Begini Dampaknya ke RI

Untuk dampak perang dagang, kata Perry, yang akan mengalami dampak negatif lebih banyak pada Amerika Serikat, meski semua negara terkena juga. Pasalnya, China dengan kemampuan mendiversifikasi maka mampu memitigasi dampak perang dagang.

Kemudian, dampak perang dagang pada Indonesia tidak terlalu besar karena ekspor ke China masih berupa komoditas, sedangkan ke AS bentuknya manufaktur. Namun ekspor ke negara lain cukup baik, seperti ke India, demikian juga CPO ke sejumlah negara di Eropa.

"Kenapa memang ekonomi tertolong dari komoditas ini. Tapi meskipun demikian seluruh dunia tidak bisa menampik perang dagang ini berdampak pada semua negara. Artinya bahwa sumber dari ekspor itu semakin sulit dijadikan andalan," ujarnya.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini