Inalum Jajaki Kerjasama Perusahaan Material Baterai Asal China Terbesar di Dunia

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 17 Mei 2019 15:46 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 17 320 2057015 inalum-jajaki-kerjasama-perusahaan-material-baterai-asal-china-terbesar-di-dunia-KJCwiKqzac.jpeg Menteri BUMN Rini Soemarno Melakukan Kunjungan Kerja ke China (Foto: Dok. Inalum)

JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno terus mendorong PT Inalum (Persero), sebagai induk dari Holding Industri Pertambangan, untuk bisa meningkatkan nilai tambah produk tambang Tanah Air dengan melakukan hilirisasi.

Dalam kunjungan kerjanya ke China, Rini pun bertemu dengan beberapa calon mitra strategis Inalum. Salah satunya Zhejiang Huayou Cobalt Company Ltd., produsen terbesar di dunia untuk material baterai yang digunakan pada kendaraan listrik.

Dia mengatakan, penjajakan kerja sama ini dilakukan agar Holding Industri Pertambangan bisa memiliki mitra strategis dalam bidang teknologi dan pengembangan, demi mempercepat realisasi hilirisasi tambang di Indonesia.

"Sektor tambang Indonesia memiliki potensi yang besar. Dengan menggandeng mitra strategis ini, Holding Industri Pertambangan Inalum bisa memiliki akses ke teknologi yang dibutuhkan untuk hilirisasi. Sehingga ke depannya industri pengolahan tambang domestik bisa berkembang dan memberikan lebih banyak nilai tambah, dan nilai ekspor produk tambang Indonesia bisa melesat," kata dia dalam keterangan tertulis, Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Baca Juga: Inalum dan Antam Canangkan Proyek Hilirisasi Bauksit Menjadi Alumina di Mempawah

Rini juga mendorong BUMN lainnya untuk bisa meningkatkan hilirisasi produk di dalam negeri. Selain untuk meningkatkan nilai produk, hilirisasi pada akhirnya juga akan mendorong penciptaan lapangan kerja.

“Kita harus bisa masuk ke industri hilir. Ini bisa diwujudkan jika kita terus bersinergi dan berkomitmen bersama membangun Indonesia. Jika ada hilirisasi maka pencipatan lapangan pekerjaan pun semakin meningkat,” katanya.

Menteri BUMN Rini Soemarno Melakukan Kunjungan Kerja ke China (Foto: Dok. Inalum)

Sementara itu, Direktur Utama PT Inalum (Persero) Budi G Sadikin mengatakan, penjajakan kerja sama dengan Huayou dilakukan karena perusahaan tersebut berpengalaman di industri tambang, khususnya pada mineral cobalt, nikel, dan lithium terintegrasi. Huayou juga sukses menjalankan hilirisasi tambang di China.

"Inalum terus secara agresif mencari mitra strategis yang bisa memberikan akses di bidang teknologi dan memiliki pengalaman yang mumpuni. Huayou merupakan salah satu mitra strategis yang ingin kami ajak kerja sama karena telah berpengalaman di industri hilirisasi tambang dan juga pernah bekerja sama dengan berbagai perusahaan kelas dunia," jelasnya.

Baca Juga: Inalum Jajaki Kerja Sama Hilirisasi Tambang dengan China

Lebih lanjut, dia menjelaskan, Holding Industri Pertambangan melalui Inalum dan ANTAM juga berencana untuk membangun pabrik berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) dan Rotary Kiln-Electric Furnace ( RKEF) lewat kerja sama dengan Huayou. Kedua pabrik ini bisa mendorong hilirisasi nikel menjadi bahan baku baterai litium.

Sejak pertengahan tahun lalu, Huayou berencana untuk membangun smelter nikel di Indonesia untuk memenuhi permintaan akan komoditas tersebut di industri baterai. Perusahaan tersebut akan menginvestasikan USD1,83 miliar di Indonesia dan saat ini sedang mencari rekan lokal.

“Semoga penjajakan ini dapat menghasilkan suatu kerjasama yang konkrit dengan Inalum untuk memajukan industri hilirisasi tambang di Indonesia,” kata Presiden Direktur Huayou Chen Xuehua.

Adapun dalam kunjungan tersebut, turut juga Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno, Deputi Bidang Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Konsultan Kementerian BUMN Gatot Trihargo, Direktur Utama PT Antam Tbk Arie Ariotedjo, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati, dan Direktur Utama BNI Achmad Baiquni.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini