nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Redam Kepanikan Pelaku Pasar, BEI Siapkan Protokol Krisis

Selasa 21 Mei 2019 13:07 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 21 278 2058369 redam-kepanikan-pelaku-pasar-bei-siapkan-protokol-krisis-CEJontnGHO.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Menjelang penetapan pemenangan pemilu presiden oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Mei 2019 memberikan situasi politik dalam negeri memanas. Bahkan beredar isu aksi people power yang turun ke jalan memberikan kekhawatiran bagi investor pasar modal. Alhasil kondisi tersebut mendorong tren aksi jual saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Merespon kekhawatiran hal tesebut, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mempersiapkan diri jika indeks harga saham gabungan (IHSG) turun terlalu dalam.

“Protokol krisis selalu ada, cuma kita biasanya kan lihat ke pasar bahwa apabila dalam sehari itu mulai turun lebih dari 2%, kalau 5% kita mulai meeting dengan para otoritas, dan sampai dengan turun 10% itu ada auto-hold yang dimana hari Sabtu kemarin sudah dicoba di antara para anggota bursa dan juga kita IDX ini dan berjalan dengan lancar. Jadi kita juga mempersiapkan itu,” kata Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Laksono Widodo seperti dilansir Harian Neraca, Jakarta, Selasa (21/5/2019).

 Baca Juga: IHSG Anjlok, BEI: Dampak Perang Dagang

Disampaikannya, manajemen BEI sudah melakukan uji coba protokol krisis di pasar modal dan hal tersebut untuk mengantisipasi apalabila IHSG turun hingga 10% dalam sehari. Laksono mengakui, jika sentimen negatif yang menerpa IHSG baik dari dalam dan luar negeri memang cukup membuat pihaknya dan pelaku pasar khawatir. Pasalnya, bila dilihat ada beberapa sentimen negatif yang berpotensi membawa IHSG turun seperti kinerja perusahaan tercatat di kuartal pertama yang lebih rendah dibandingkan dengan prediksi analis.

Ditambah, data makro pun kurang bersahabat. Tengok saja, pada April 2019 ekspor tercatat USD12,6 miliar atau turun 13,1% year on year. Sedangkan impor mencapai USD15,10 miliar atau turun 6,58%. Sehingga, neraca perdagangan Indonesia pada April 2019 kembali mengalami defisit setelah dua bulan berturut-turut mencatatkan surplus. Tercatat neraca perdagangan RI pada April 2019 mengalami defisit USD2,50 miliar. Adapun neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2019 mengalami surplus USD0,54 miliar, meningkat dari USD0,33 miliar pada bulan Februari 2019.

Kondisi ini juga diperburuk meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika Serikta dan China.“Tidak bisa dihindari bahwa kenyataannya di dunia ini perang dagang masih jadi headline dimana-mana. Kalau Amerika masih batuk-batuk seluruh dunia kena termasuk di Indonesia. Jadi penyebabnya itu,” pungkasnya.

 Baca Juga: IHSG Turun 14 Poin ke 5.812

Pihak BEI, lanjut Laksono, tentu juga khawatir tetapi bukan sebuah kejadian yang luar biasa. Oleh karena itu, menurutnya tidak ada alasan untuk panik. Sementara menurut mantan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Tito Sulistio, sudah saatnya regulator berperan aktif menenangkan pasar.“Reaksi aktif otoritas mungkin diperlukan setidaknya untuk menahan yang mau kabur dari pasar,” kata dia.

Dirinya berharap, otoritas pasar mungkin bisa meningkatkan efisiensi informasi sesuai konsepnya dengan terus menebar berita positif berdasarkan data, misalnya likuiditas, velocity, tingkat keaktifan retail yang tinggi, jumlah investor domestik, peraturan baru yang terus kondusif, serta beroperasinya securities financing.”Ini harus dilakukan dengan menemui langsung pelaku pasar,” ungkapnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini