nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jejak Bisnis Nabi Muhammad SAW, Ganjaran Pedagang yang Jujur

Rani Hardjanti, Jurnalis · Minggu 26 Mei 2019 14:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 24 320 2059939 jejak-bisnis-nabi-muhammad-saw-ganjaran-pedagang-yang-jujur-41COaZQnPD.jpg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu jualannya yang mempunyai aib sebelum ia menjelaskan aibnya.” (HR. al-Quzuwaini).

Dalam Islam, melakukan pendekatan kepada seseorang, dalam hal ini konsumen, kita tidak lagi dapat melakukan hanya dengan cara pendekatan emosi (affective approach) tetapi juga dengan pendekatan logika (cognitive approach) dan diiringi dengan pendekatan kalbu (spiritual approach).

Lalu jujur seperti apa yang harus dilakukan? Apa batasan jujur yang harus diberikan kepada konsumen? Apa kita harus menceritakan semuanya? Tentu tidak. Jujur yang dilakukan dibatasi oleh sikap murah hati dan pertanyaan yang dilontarkan oleh konsumen pun haruslah berdasar sikap murah hati.

Bermurah hati saat menjawab dan bermurah hati saat bertanya. Seorang konsumen jangan terlalu banyak melontarkan pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan produk yang ditawarkan sedangkan sang penjual pun apabila tidak ditanya jangan merasa enggan untuk menjelaskan kalau memang yang tidak ditanyakan adalah hal yang menyangkut kepentingan konsumen.

Seperti dikutip dari buku Marketing Nabi Muhammad SAW, Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad SAW, karya Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, terbitan Madani Prima, Minggu (26/5/2019), Nabi Muhammad SAW bersabda, “Saudagar yang jujur dan dapat dipercaya akan dimasukan dalam golongan para nabi, orang-orang jujur dan para syuhada”. (HR. Tirmidzi).

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini