nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Isu Perang Dagang Tekan Rupiah ke Level Rp14.410/USD

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Rabu 29 Mei 2019 17:24 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 29 278 2061905 isu-perang-dagang-tekan-rupiah-ke-level-rp14-410-usd-vnBcjEJEBH.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat tertekan pada perdagangan hari ini. Sore ini Rupiah sudah bergerak ke level Rp14.400-an per USD, setelah beberapa hari lalu berada di Rp14.300-an per USD.

Melansir Bloomberg Dollar Index, Rabu (29/5/2019) pukul 17.00 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange melemah 35 poin atau 0,24% ke level Rp14.410 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.385 per USD – Rp14.432 per USD.

YahooFinance juga mencatat mata uang Garuda itu melemah 40 poin atau 0,27% ke level Rp14.410 per USD. Dalam pantauan YahooFinance, Rupiah bergerak di kisaran Rp14.370 per USD – Rp14.484 per USD pada hari ini.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, pelemahan Rupiah didorong kembali memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Terbaru, China tengah berencana untuk mengurangi ekspor bahan tambang tanah jarang (rare earth) ke AS.

Hal itu menjadi langkah yang akan meningkatkan ketegangan antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu. Presiden AS Donald Trump pun mengatakan, pada Senin (27/5/2019), bahwa Washington belum siap untuk membuat kesepakatan dengan China.

Disisi lain, indeks keyakinan konsumen di AS versi Conference Board tercatat 134,1 pada Mei 2019, naik 4,9 poin dibandingkan posisi bulan sebelumnya dan mencapai posisi tertinggi sejak November 2018.

"Artinya, konsumen AS masih optimistis menatap masa depan,” kata Ibrahim dalam analisisnya, Jakarta, Rabu (29/5/2019).

Menurutnya, konsumen masih berencana untuk meningkatkan belanja, yang bakal menjadi fondasi pertumbuhan konsumsi rumah tangga dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB).

Konsumsi rumah tangga memang menyumbang hampir 70% dalam pembentukan PDB di Negeri Paman Sam tersebut.

“Oleh karena itu, AS masih punya harapan ekonomi bakal tumbuh kencang seiring kuatnya konsumsi rumah tangga,” ujarnya.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini