nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fakta Menarik Permasalahan Garuda, dari Laporan Keuangan hingga Rangkap Jabatan

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Sabtu 06 Juli 2019 06:05 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 05 320 2075266 fakta-menarik-permasalahan-garuda-dari-laporan-keuangan-hingga-rangkap-jabatan-4FpKVXxpHv.jpg Pesawat Garuda Indonesia (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk saat ini tengah menjadi sorotan, sebab kinerja maskapai penerbangan BUMN ini tersandung empat kasus.

Emiten berkode GIAA ini terkena persoalan laporan keuangan yang bermasalah, jabatan ganda oleh Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, saham yang merosot, serta perkara harga tiket pesawat yang mahal yang disebabkan adanya kartel.

Beberapa persoalan yang dialami Garuda dalam beberapa minggu belakangan ini pun dirangkum Okezone.

1. Laporan keuangan bermasalah, Garuda Indonesia kena denda Rp1,25 miliar

Garuda Indonesia dikenakan sanksi terkait penyajian laporan keuangan tahun 2018 yang bermasalah. Sanksi pun diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berupa perintah tertulis dan pengenaan denda mencapai Rp1 miliar.

Selain itu, laporan keuangan kuartal I 2019 juga dikenakan sanksi oleh pihak Bursa Efek Indonesia (BEI), baik berupa perintah tertulis maupun denda sebesar Rp250 juta. Meski demikian, persoalan ini masih berkesinambungan dengan laporan keuangan tahun 2018.

Di mana piutang dari PT Mahata Aero Teknologi yang dalam laporan keuangan 2018 diakui sebagai initual recognation atau pengakuan awal, sehingga dicatatkan dalam pendapatan. Maka seharusnya pendapatan itu tercermin dalam laporan keuangan per Maret 2019.

Baca Juga: Bos Garuda Akhirnya Mundur dari Jabatan Komisaris Utama Sriwijaya Air

Namun, jumlah piutang tersebut pada kuartal I 2019 tetap sama seperti pada tahun 2018, yakni senilai USD233,13 juta atau setara Rp3,2 triliun (kurs Rp14.000 per USD). Dengan demikian, memang belum ada pembayaran yang dilakukan.

Dengan demikian, terkait laporan keuangan, Garuda Indonesia harus membayar denda sebesar Rp1,25 miliar.

2. Rangkap Jabatan Ari Askhara

Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra merangkap jabatan sebagai Komisaris Utama PT Sriwijaya Air. Hal ini yang membuat pria yang akrab dipanggil Ari Askhara itu diperiksa oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Tak hanya Ari, Direktur Niaga Garuda Indonesia Pikri Ilham Kurniansyah, dan Direktur Utama Citilink Indonesia Juliandra Nurtjahtjo, juga diperiksa oleh KPPU karena rangkap jabatan sebagai Komisaris Sriwijaya Air.

Ari menjelaskan, rangkap jabatan ini didasari atas kepentingan untuk menyelamatkan aset negara. Selain itu, posisi rangkap jabatan sudah mendapatkan persetujuan sesuai dengan ketentuan dan aturan yang berlaku di Kementerian BUMN.

"Kami sudah sampaikan semuanya kepada (KPPU). Intinya bahwa rangkap jabatan ini dilakukan sudah sesuai aturan dan semua prosedur yang berlaku," ujar dia di Kantor KPPU Jakarta, Senin (1/7/2019).

Kendati demikian, ketiga direksi Garuda Indonesia tersebut, akhirnya mengambil langkah mengundurkan diri dari jabatan Komisaris Sriwijaya Air. Mereka secara resmi telah mengajukan pengunduran diri dari jabatan mereka pada maskapai tersebut per 2 Juli 2019.

“Kami menghormati proses pemeriksaan yang saat ini tengah dilaksanakan oleh Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) serta akan patuh dan terbuka terhadap hasil rekomendasi yang disampaikan oleh KPPU,” ujar Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan, Selasa (2/7/2019).

3. Saham Garuda Indonesia Merosot

Usai pengenaan sanksi oleh OJK, BEI, dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) terkait laporan keuangan yang bermasalah, saham GIAA tambil mengenaskan pada perdagangan Jumat (28/6/2019).

Saham Garuda Indonesia tumbang dan mendarat di jajaran top loser pada perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Berdasarkan pantauan Okezone, melalui data perdagangan Bloomberg Jumat (28/6/2019), Saham Garuda parkir di posisi Rp366 atau terkoreksi 30 poin setara dengan 7,58%.

Saham Garuda juga tercatat masuk top loser atau saham yang mengalami koreksi mendalam di papan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Baca Juga: Sudah Mundur dari Komisaris Sriwijaya Air, KPPU Tetap Panggil Dirut Citilink

Data menunjukkan pada penutupan perdagangan sesi I saham Garuda tersangkut di level Rp22 atau minus 5,56% ke level Rp374. Kemudian pada perdagangan sesi kedua, saham Garuda terus merosot hingga parkir di zona merah.

Adapun pada penutupan perdagangan pekan ini, Jumat (5/7/2018), saham GIAA tampak turun 2 poin atau 50%. Meski berada di zona merah, saham Garuda Indonesia kini berada di level Rp402.

4. Tiket Mahal Dinilai Kartel Garuda Indonesia dan Lion Air

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyebut adanya dugaan kartel yang dilakukan Lion Air Grup dan Garuda Indonesia pada penerbangan domestik. Kartel dilakukan dengan cara menguasai pasar penerbangan secara penuh yang berimplikasi pada mahalnya harga tiket pesawat.

"Penguasaan pasar itu diawali dengan strategi rangkap jabatan direksi Garuda Indonesia terhadap Sriwijaya Air," ujar Guntur Saragih di Kantor KPPU Jakarta, Senin (1/7/2019).

Rangkap jabatan dilakukan oleh Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara yang turut menjabat Komisaris Utama Citilink Indonesia dan Sriwijaya Air. Serta Direktur Utama Citilink Julaindra Noertjahjo yang juga menjabat Komisaris Sriwijaya Air.

"Garuda Indonesia bersama Grup Sriwijaya memang tengah melakukan Kerja Sama Operasional (KSO). Sebagai catatan, KSO tersebut dilakukan pada November 2018 atau sebelum adanya isu kenaikan tiket pesawat," tutur dia.

Setelah itu, lanjut dia, KPPU menilai adanya skenario kartel bersama Lion Air Group yang merupakan perusahaan swasta nasional.

"Jadi dengan dikuasainya pasar penerbangan oleh dua industri raksasa nasional itu, maka terjadi suatu tindakan kartel harga tiket pesawat. Kita juga bisa lihat di boikotnya AirAsia oleh travel agent yang semakin menguntungkan mereka," kata dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini