nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gaji Tinggi hingga Karier Cerah, Swiss Surga bagi Para Ekspatriat

Koran SINDO, Jurnalis · Sabtu 06 Juli 2019 13:22 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 06 320 2075368 gaji-tinggi-hingga-karier-cerah-swiss-surga-bagi-para-ekspatriat-taF5zc1brr.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

LONDON - Swiss menjadi tempat hidup dan kerja terbaik untuk ekspatriat pada 2019 versi perusahaan perbankan Inggris, HSBC. Swiss disebut sebagai surga bagi para ekspatriat karena memberikan kualitas kehidupan yang lebih baik, gaji yang sangat tinggi, dan prospek karier yang cerah.

Posisi Swiss ini melompat tujuh peringkat dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus menggeser Singapura yang turun ke posisi kedua.

Salah satu paling diidamkan ekspatriat adalah standar kesejahteraan di Swiss tidak perlu diragukan lagi. Mereka rata-rata memperoleh gaji USD111,587 (Rp1,6 miliar) per tahun atau di atas rata-rata gaji global sebesar USD75,966 (Rp1,1 miliar).

 Baca Juga: Daftar Kota Termahal bagi Ekspatriat

Sebanyak 71% ekspatriat di Swiss mengatakan telah memperoleh pendapatan yang lebih tinggi di Swiss dibandingkan di negara asalnya. Faktor lain yang membantu menaik kan reputasi Swiss ialah rendahnya tingkat polusi udara, rendahnya angka kejahatan, fasilitas yang memadai, dan kondisi politik-ekonomi stabil.

“Swiss merupakan tempat favorit para ekspatriat sejak lama,” ungkap HSBC.

“Swiss telah masuk jajaran 10 besar sejak 2011. Sebanyak 82% ekspatriat di Swiss mengaku mengalami peningkatan kesejahteraan dibandingkan di negara asal dan menyukai pemandangan alam di Swiss,” demikian dijelaskan.

Sebanyak 70% ekspatriat di Swiss juga menilai kualitas udaranya jauh lebih bersih dan nyaman dibandingkan di negara asal. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan pengakuan rata-rata ekspatriat global yang hanya mencapai 40%.

 Baca Juga: Negara Paling Nyaman untuk Ekspatriat dari Termahal hingga Termurah

Hampir 2/3 atau 67% ekspatriat juga merasa aman ketika berada di tepi jalan atau area umum. Sebanyak 86% ekspatriat juga mengaku tidak pernah cemas dengan kondisi politik dan ekonomi di Swiss. Hanya sekitar 20% ekspatriat yang mengaku cemas dengan hal itu.

Dalam dua tahun terakhir, sekitar 49% ekspatriat global mengaku prihatin dengan situasi ekonomi di negara asal mereka, termasuk kondisi politik. Meski jatuh ke posisi kedua, HSCB mengatakan Singapura tetap menjadi destinasi terbaik bagi ekspatriat yang memiliki anak. Sekitar 62% ekspatriat mengatakan sistem pendidikan di Singapura juga lebih baik dibandingkan di negara asal.

Di posisi ketiga, Kanada disebut sebagai negara dengan biaya hidup lebih murah. “Sebanyak 40% ekspatriat mengaku mengalami penurunan pengeluaran,” ungkap HSBC.

“Kualitas hidup yang bagus bagi ekspatriat juga ditawarkan Spanyol yang naik 10 peringkat ke posisi keempat. Mayoritas ekspatriat di Spanyol (58%) mengaku mengalami perbaikan mental, bandingkan dengan angka global (35%).” Daftar kali ini mengalami perubahan signifikan.

Selandia Baru jatuh ke posisi lima dari posisi dua dan Jerman jatuh ke posisi delapan dari posisi tiga dibanding tahun lalu. Adapun Indonesia jatuh empat peringkat ke posisi 31. Sebaliknya, Turki naik keposisi 7 dari posisi 22 dan Vietnam ke posisi 10 dari posisi 18.

Kota Termahal

Sebelumnya, Mercer menyebutkan Hong Kong sebagai kota termahal bagi ekspatriat pada 2019. Kota Asia lainnya juga tidak berada jauh. Bahkan, delapan dari 10 kota termahal bagi ekspatriat terletak di Asia, mulai Tokyo, Singapura, Seoul, Shanghai, Beijing, Shenzhen, hingga Ashgabat. Sisanya New York.

Sementara itu, Tunis dinobatkan sebagai kota termurah bagi ekspatriat. Disusul Tashkent, Karachi, Bishkek, Windhoek, Banjul, Islamabad, Tbilisi, Skopje, dan Managua. Mercer menyatakan biaya hidup ekspatriat ditentukan berbagai faktor, tak terkecuali fluktuasi nilai mata uang, biaya inflasi barang dan jasa, dan biaya akomodasi.

Menurut Mercer, Asia mendominasi posisi 10 besar akibat harga tanah yang mahal. Dengan pasokan yang sedikit dan penawaran yang banyak, harga properti di Hong Kong meledak hingga tidak terjangkau.

Pemerintah Hong Kong berencana membangun pulau buatan senilai USD80 miliar untuk mengatasi krisis tersebut. Mercer menganalisis bera gam data, mulai harga pakaian, makanan, sewa rumah, hingga hiburan.

Menu Bic Mac dari McDonald paling mahal ada di Zurich, yakni senilai USD15. Hong Kong menjadi tempat termahal untuk bahan bakar minyak (BBM) dan secangkir kopi, sedangkan London untuk harga bioskop. (Muh Shamil)

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini