nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fakta di Balik BI Harus Turunkan Suku Bunga Jadi 5,75%

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 19 Juli 2019 08:38 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 19 20 2080847 fakta-di-balik-bi-harus-turunkan-suku-bunga-jadi-5-75-29WObeDczB.jpg Foto: BI Turunkan Suku Bunga Acuan (Okezone)

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) akhirnya memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75% dari 6% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) kemarin.

Setelah sebelumnya, BI mempertahankan suku bunga di level 6% selama 6 bulan lamanya.

Lalu apa fakta di balik penurunan suku bunga acuan BI? Ini rangkumannya seperti dikutip Okezone.

1. Suku Bunga Acuan BI Turun Jadi 5,75%

BI menurunkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75% dari 6%

 Baca Juga: BI Masih Buka Peluang Penurunan Suku Bunga Acuan

2. Alasan BI Turunkan Suku Bunga Acuan

Penurunan tersebut diyakini karena pergerakan inflasi yang terus terkendali dan upaya untuk memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

“Dengan keputusan ini, seluruh kebijakan BI diarahkan un tuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi. Kita juga meyakini inflasi rendah dan terjaga,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo

 Baca Juga: Suku Bunga BI Turun Akhir dari Kebijakan Ketat Bank Sentral

3. Ini Akibatnya Jika Suku Bunga BI Tak Turun

Jika tidak mengambil kebijakan penurunan suku bunga acuan maka pertumbuhan ekonomi akan berada di bawah titik tengah.

“Tahun ini perkiraan kita pertumbuhan ekonomi akan di bawah titik tengah kisaran 5-5,4%. Artinya bisa di bawah 5,2%. Namun dengan penurunan suku bunga dan penurunan GWM (giro wajib minimum), kita ingin agar tidak terlalu jauh dari 5,2%,” ungkapnya.

4. Dampak Penurunan Suku Bunga pada 2020

Penurunan suku bu nga ini juga akan dirasakan dampaknya tahun depan, terutama di sektor riil. Tahun 2020, BI sudah sampaikan bahwa perkiraan pertumbuhannya kisaran 5,1- 5,5%.

BI juga sudah menakar jika terjadi trade war ada risiko ke bawah dan risiko yang ke bawah ini sudah diantisipasi dengan kebijakan moneter akomodatif, makro prudensial akomodatif, serta sistem pembayaran akomodatif.

 

5. Current Account Decifit Diprediksi Melebar

Di sisi lain, BI memprediksi adanya pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada kuartal II mengingat adanya perlambatan yang signifikan dari pertumbuhan ekspor serta perilaku musiman, terkait peningkatan kebutuhan repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri.

BI juga memberikan sinyal akan terus membuka ruang untuk menurunkan suku bunga acuan untuk membantu mendorong pertumbuhan ekonomi tahun ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini