nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sawit Banyak Masalah, Apa Strategi Eagle High Plantations?

Feby Novalius, Jurnalis · Jum'at 26 Juli 2019 18:32 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 26 320 2083937 sawit-banyak-masalah-apa-strategi-eagle-high-plantations-7KoaVLGKUy.jpg Ilustrasi Harga Sawit Tengah Menurun (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Eagle High Plantations Tbk (EHP) menyiapkan langkah antisipasi di tengah berbagai tantangan dalam usaha kelapa sawit, termasuk rendahnya harga CPO di pasar global.

Sekretaris Perusahaan EHP Budi Wibawa mengatakan, fokus EHP saat ini antara lain mengelola keuangan dan operasional kebun secara efektif dan efisien. Selain itu, mengoptimalkan sumber daya manusia yang berorientasi pada peningkatan produktivitas.

Satrija menjelaskan, beberapa langkah ini didukung dengan penerapan teknologi informasi. Hal tersebut membantu pengelolaan anggaran yang efektif dan efisien.

Baca Juga: Produksi Eagle High Plantations Naik 33% Jadi 1,8 Juta Ton

Digital Harvesting System untuk memastikan pengelolaan yang akurat dan peningkatan produktivitas panen tandan buah segar (TBS). EHP juga terus meng-upgrade Plantation Management System untuk membantu pengelolaan operasional, termasuk sumber daya manusia, secara efektif dan efisien.

“Semua teknologi informasi tersebut terintegrasikan ke dalam SAP S4HANA, platform teknologi yang memudahkan analisa dan reporting sekaligus monitoring operasional perusahaan dengan pengumpulan data yang kredibel dan akurat,” kata Satrija, dalam keterangannya, Jumat (26/7/2019).

Baca Juga: Produksi Rendah, Eagle High Plantations Rugi Rp254 Miliar

Sebagaimana diketahui, pada kuartal satu tahun ini, produksi TBS, CPO dan PK meningkat masing-masing 40%, 33% dan 25% atau menjadi sebesar 359,966 ton, 74,718 ton dan 11,431 ton, dibanding produksi pada periode yang yang sama tahun lalu.

Sedangkan pendapatan EHP pada kuartal satu tercatat Rp637.996 miliar, atau meningkat hanya 1% dibanding kuartal satu tahun lalu. Sehubungan dengan penurunan harga yang cukup tajam, EHP masih membukukan rugi bersih sebesar Rp262 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu.

Meski industri kelapa sawit tengah dalam tekanan trade war dan kampanye negatif sawit dari Uni Eropa, EHP optimis bahwa harga CPO akan terus naik di masa mendatang seiring dengan terus bertumbuhnya kebutuhan minyak nabati dunia. Selain itu, moratorium lahan sudah efektif dan hal ini merupakan indikasi batasan suplai.

“Ditambah rencana pemerintah mengimplementasikan B20 menjadi B30 akan mendorong peningkatan harga CPO,” katanya.

Selain strategi tersebut, perusahaan memperkuat sturktur organisasi dengan memasukkan dua profesional di dalam susunan direksi baru. Bergabungnya dua direksi ini sebagai langkah mengantisipasi berbagai tantangan dalam usaha kelapa sawit, termasuk masih rendahnya harga CPO di pasar global.

Kedua profesional baru tersebut adalah Ramesh Veloo sebagai direktur utama dan Gelora Sinuraya sebagai direktur.

“Bapak Ramesh Veloo dan Bapak Gelora Sinuraya adalah para profesional yang sudah malang melintang di industri perkebunan, khususnya kelapa sawit, dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di berbagai perusahaan perkebunan multinasional. Dengan pengalaman panjang tersebut, beliau diharapkan dapat memperkuat kinerja Perseroan,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini